Defisit Neraca Dagang RI Berlanjut, Juni 2026 -US$450 Juta
Mis Fransiska Dewi
03 August 2026 11:55

Bloomberg Technoz, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja neraca perdagangan barang Indonesia mengalami defisit sebesar US$450 juta pada Juni 2026. Angka ini sesuai dengan proyeksi konsensus para ekonom dan analis yang memperkirakan neraca dagang akan berlanjut defisit, setelah mengalami perjalanan panjang surplus pada neraca dagang nasional.
Konsensus yang dihimpun Bloomberg hingga Jumat (31/7/2026) menghasilkan median proyeksi neraca perdagangan Indonesia defisit US$756 juta. Masih minus, tetapi ada perbaikan ketimbang bulan sebelumnya.
Pada Mei 2026, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$1,61 miliar, menjadi yang pertama kalinya setelah surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak 6 tahun terakhir, tepatnya Mei 2020. Terakhir, neraca dagang Indonesia mengalami surplus US$89,1 juta pada April 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan defisit neraca perdagangan Juni 2026 terutama disebabkan oleh komoditas migas yang defisit US$3,49 miliar, dengan komoditas utama penyumbang defisit pada migas yaitu hasil minyak dan minyak mentah.
"Pada saat yang sama, neraca perdagangan nonmigas surplus US$3,04 miliar dengan komoditas penyumbang surplus utama dari lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja," kata Ateng dalam konferensi pers BPS, Senin (3/8/2026).





























