Logo Bloomberg Technoz

Menuruni Sungai dalam Gelap Demi Membawa Pulang Air Bersih

Andrean Kristianto
01 August 2026 16:45

Matahari mulai tenggelam, warga Kampung Gunung Batur 2, Cilegon, Banten, masih berjalan menuju dasar Sungai Sumur Tengah. (Bloomberg Technoz/Andrean)

Matahari mulai tenggelam, warga Kampung Gunung Batur 2, Cilegon, Banten, masih berjalan menuju dasar Sungai Sumur Tengah. (Bloomberg Technoz/Andrean)

Mereka datang bukan untuk mencari suasana sore, melainkan mengambil air bersih yang tersisa di tengah kemarau.(Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Mereka datang bukan untuk mencari suasana sore, melainkan mengambil air bersih yang tersisa di tengah kemarau.(Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Di dasar sungai, puluhan galon berukuran 15 liter berjajar menunggu giliran terisi. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Di dasar sungai, puluhan galon berukuran 15 liter berjajar menunggu giliran terisi. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Walau banyak nyamuk para ibu-ibu berkumpul sambil menunggu galon yang ia bawa terisi. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Walau banyak nyamuk para ibu-ibu berkumpul sambil menunggu galon yang ia bawa terisi. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Sebelum ada bantuan air, lokasi ini juga sering dijadikan tempat bagi warga mandi hingga mencuci. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Sebelum ada bantuan air, lokasi ini juga sering dijadikan tempat bagi warga mandi hingga mencuci. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Galon-galon tang dibawa lalu diletakkan dibawa sunber mata air yang mengalir. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Galon-galon tang dibawa lalu diletakkan dibawa sunber mata air yang mengalir. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Air yang diambil warga ini untuk memenuhi kebutuhan minum dan memasak. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Air yang diambil warga ini untuk memenuhi kebutuhan minum dan memasak. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Hampir dua jam warga rela menunggu agar air dapat mengisi galon berisi 15 liter. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Hampir dua jam warga rela menunggu agar air dapat mengisi galon berisi 15 liter. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Ketika hari mulai gelap, beberapa warga mengandalkan cahaya lampu yang dipasang untuk membantu beraktivitas. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Ketika hari mulai gelap, beberapa warga mengandalkan cahaya lampu yang dipasang untuk membantu beraktivitas. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Usai galon terisi para ibu-ibu tersebut lalu menggendong galon itu dan merapihkan menunggu untuk dijemput suami.(Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Usai galon terisi para ibu-ibu tersebut lalu menggendong galon itu dan merapihkan menunggu untuk dijemput suami.(Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Setelah terisi, air tersebut harus kembali diangkat melewati jalur bebatuan hingga menuju rumah. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Setelah terisi, air tersebut harus kembali diangkat melewati jalur bebatuan hingga menuju rumah. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bagi ibu-ibu yang tidak ditemani oleh suaminya, mereka harus membawa sendiri galon melewati bebatuan licin. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bagi ibu-ibu yang tidak ditemani oleh suaminya, mereka harus membawa sendiri galon melewati bebatuan licin. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Galon berisi 15 liter air tesebut diabawa ke atas untuk menuju ke rumah mereka. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Galon berisi 15 liter air tesebut diabawa ke atas untuk menuju ke rumah mereka. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Para suami datang dengan membawa motor lalu membawanya galon itu pulang bersama istri. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Para suami datang dengan membawa motor lalu membawanya galon itu pulang bersama istri. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Menurut warga, mereka sudah kesulitan mendapatkan air bersih sejak tiga bulan lalu. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Menurut warga, mereka sudah kesulitan mendapatkan air bersih sejak tiga bulan lalu. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Warga di kampung ini tidak memiliki sumur sehingga mengandalkan mata air untuk mendapatkan air bersih. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Warga di kampung ini tidak memiliki sumur sehingga mengandalkan mata air untuk mendapatkan air bersih. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Matahari mulai tenggelam, warga Kampung Gunung Batur 2, Cilegon, Banten, masih berjalan menuju dasar Sungai Sumur Tengah. (Bloomberg Technoz/Andrean)
Mereka datang bukan untuk mencari suasana sore, melainkan mengambil air bersih yang tersisa di tengah kemarau.(Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Di dasar sungai, puluhan galon berukuran 15 liter berjajar menunggu giliran terisi. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Walau banyak nyamuk para ibu-ibu berkumpul sambil menunggu galon yang ia bawa terisi. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Sebelum ada bantuan air, lokasi ini juga sering dijadikan tempat bagi warga mandi hingga mencuci. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Galon-galon tang dibawa lalu diletakkan dibawa sunber mata air yang mengalir. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Air yang diambil warga ini untuk memenuhi kebutuhan minum dan memasak. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Hampir dua jam warga rela menunggu agar air dapat mengisi galon berisi 15 liter. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Ketika hari mulai gelap, beberapa warga mengandalkan cahaya lampu yang dipasang untuk membantu beraktivitas. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Usai galon terisi para ibu-ibu tersebut lalu menggendong galon itu dan merapihkan menunggu untuk dijemput suami.(Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Setelah terisi, air tersebut harus kembali diangkat melewati jalur bebatuan hingga menuju rumah. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Bagi ibu-ibu yang tidak ditemani oleh suaminya, mereka harus membawa sendiri galon melewati bebatuan licin. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Galon berisi 15 liter air tesebut diabawa ke atas untuk menuju ke rumah mereka. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Para suami datang dengan membawa motor lalu membawanya galon itu pulang bersama istri. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Menurut warga, mereka sudah kesulitan mendapatkan air bersih sejak tiga bulan lalu. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Warga di kampung ini tidak memiliki sumur sehingga mengandalkan mata air untuk mendapatkan air bersih. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Saat matahari mulai tenggelam, warga Kampung Gunung Batur 2, Cilegon, Banten, masih berjalan menuju dasar Sungai Sumur Tengah. Mereka datang bukan untuk mencari suasana sore, melainkan mengambil air bersih yang tersisa di tengah kemarau.

Setiap hari, warga harus menempuh perjalanan sekitar satu kilometer dari rumah menuju sumber air yang berada di dasar sungai. Sebagian berjalan kaki, sebagian lainnya menggunakan sepeda motor hingga titik tertentu sebelum melanjutkan perjalanan melalui jalur berbatu.

Mereka menuruni jalur menuju dasar sungai yang dipenuhi bebatuan licin. Ketika hari mulai gelap, beberapa warga mengandalkan cahaya lampu yang dipasang untuk membantu langkah mereka.

Di dasar sungai, puluhan galon berukuran 15 liter berjajar menunggu giliran terisi. Air yang keluar perlahan menjadi tumpuan warga untuk kebutuhan minum sehari-hari.

Hadaroh, salah satu warga, hampir dua jam duduk menunggu galonnya penuh. Bersama ibu-ibu lainnya, ia rela menghabiskan waktu berjam-jam demi membawa pulang air untuk keluarga.

“Sejak habis Lebaran Haji, ini ngambil buat minum. Ada bantuan, tapi itu buat nyuci sama mandi,” kata Hadaroh (40), warga Kampung Gunung Batur 2, kepada Bloomberg Technoz, Jumat (31/7).

Rumah Hadaroh tidak memiliki sumur. Untuk air minum, ia bergantung pada sumber air di dasar sungai yang mulai menjadi andalan warga sejak sekitar tiga bulan terakhir ini.

Hari itu, Hadaroh membawa delapan galon yang diperkirakan cukup untuk kebutuhan keluarganya selama hampir sepekan. Setelah terisi, air tersebut harus kembali diangkat melewati jalur bebatuan hingga menuju rumah.

Agar semua warga mendapat kesempatan mengambil air, pengambilan dilakukan secara bergantian. Warga membagi waktu menjadi dua giliran, yakni pukul 06.00 WIB hingga 18.00 WIB, serta pukul 18.00 WIB hingga 06.00 WIB.

(dre)