Logo Bloomberg Technoz

Berdasarkan data Bloomberg per Jumat (12/6/2026), acuan valuasi Price Book Value (PBV) IHSG ada di 1,55 kali. Sedang est. Price Earning Ratio (PER) IHSG tercatat 9,21 kali.

Mencermati valuasi bursa saham di regional Asia lainnya, valuasi IHSG saat ini terbilang relatif lebih murah (undervalued).

No Bursa Saham Valuasi PBV PER
1 TW Weighted Index (Taiwan) 4,15 x 21,41 x
2 NIKKEI 225 (Jepang) 2,99 x 22,83 x
3 SENSEX (India) 2,95 x 18,76 x
4 KOSPI (Korea Selatan) 2,21 x 8,69 x
5 Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam) 2,05 x 12,32 x
6 Straits Times (Singapura) 1,59 x 15,45 x
7 KLCI (Malaysia) 1,59 x 14,65 x
8 IHSG 1,55 x 9,21 x
9 Shanghai Composite (China) 1,54 x 14,14 x
10 SETI (Thailand) 1,45 x 16,23 x
11 PSEI (Filipina) 1,23 x 9,06 x


Sumber: Tim Riset Bloomberg Technoz, Bloomberg

Valuasi IHSG sudah murah ketimbang bursa saham TW Weighted Index (Taiwan), NIKKEI 225 (Jepang), SENSEX (India), KOSPI (Korea Selatan), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), Straits Times (Singapura), hingga tetangga KLCI (Malaysia) berdasarkan PBV.

Mencermati valuasi PER, IHSG juga murah (undervalued) dibanding dengan bursa SETI (Thailand), dan Shanghai Composite (China).

PBV adalah rasio antara kapitalisasi pasar dengan total nilai buku ekuitas. Sementara itu, PER adalah rasio antara kapitalisasi pasar dengan total laba dari seluruh konstituen pasar. Investor lazim menggunakan dua rasio ini untuk menentukan murah atau mahal valuasi pasar.

Terlebih lagi, Sinarmas Sekuritas menyebut, IHSG tengah diperdagangkan pada valuasi terendah dalam beberapa tahun dengan Price–to–Earnings Ratio (P/E) hanya sekitar 10 kali, atau di rentang 2 standar deviasi di bawah rata–rata P/E lima tahun. 

“Pandangan kami adalah bahwa sebagian besar risiko yang telah diketahui pasar saat ini telah tercermin secara signifikan dalam harga saham,” papar Sinarmas dalam riset terbarunya, mengutip Jumat (12/6/2026).

Namun memang, meskipun valuasi IHSG saat ini sudah terlihat sangat murah secara historis dan sebagian besar risiko telah terdiskon dalam harga, proses pemulihan pasar masih memerlukan katalis tambahan yang lebih kuat. 

“Salah satu faktor terpenting yang akan menentukan arah pasar ke depan adalah kepastian bahwa Indonesia tetap mempertahankan statusnya dalam indeks MSCI Emerging Markets,” terangnya dalam riset yang sama.

Sebaliknya, apabila ketidakpastian terkait MSCI dapat terselesaikan, kondisi saat ini dapat menjadi titik masuk (entry point) yang menarik bagi investor dengan horizon investasi minimal 12 bulan, yang bersedia menghadapi volatilitas jangka pendek.

(fad)

No more pages