"Ini adalah sesuatu yang pasti akan diselesaikan," ujar Trump optimis. "Mereka sama-sama ingin menandatanganinya seperti halnya saya, atau bahkan mereka lebih menginginkannya."
Harga minyak mentah dunia langsung terjun bebas setelah pernyataan tersebut, sementara pasar saham berbalik menguat. Minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) merosot hampir 3% menuju level US$85 per barel, sedangkan minyak Brent menetap di kisaran US$90 per barel.
Pengumuman Trump menjadi yang terbaru dalam rangkaian pernyataan yang saling bertentangan mengenai perang yang berlangsung sejak Februari. Konflik yang awalnya diperkirakan Trump hanya akan berlangsung empat hingga enam pekan kini telah memasuki bulan keempat dan semakin tidak populer di kalangan warga Amerika yang harus menanggung kenaikan harga bahan bakar.
Presiden AS itu telah berkali-kali menyatakan bahwa kesepakatan sudah di depan mata, namun hingga kini belum ada yang benar-benar terwujud. Janji terbaru mengenai kesepakatan yang akan segera dicapai muncul hanya beberapa hari setelah gencatan senjata selama dua bulan runtuh akibat gelombang serangan balasan dari kedua pihak.
Sejumlah pihak yang mengetahui jalannya diplomasi mengatakan bahwa perundingan antara AS dan Iran — dengan Qatar yang semakin berperan sebagai mediator — tetap berlangsung dan menunjukkan kemajuan meskipun kekerasan terus terjadi. Salah satu sumber mengatakan kedua pihak memanfaatkan saling serang tersebut sebagai cara untuk menekan lawan dan memperoleh posisi tawar yang lebih baik dalam negosiasi.
Trump mengatakan dirinya telah berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta para pemimpin Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Bahrain, dan Kuwait. Ia juga berencana melakukan pembicaraan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Iran tidak termasuk dalam daftar negara yang sebelumnya disebut Trump telah menyetujui kerangka kesepakatan.
Sebelumnya pada Kamis, Trump menjanjikan eskalasi besar dengan menyatakan bahwa pasukan AS akan mengambil alih Pulau Kharg, pusat energi penting bagi Iran. Langkah tersebut kemungkinan memerlukan pengerahan pasukan darat Amerika.
Namun, hampir seketika ia menyampaikan keraguannya terhadap rencana tersebut. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengatakan dirinya “tidak yakin Amerika memiliki selera untuk itu.” Ketika ditanya kembali di Ruang Oval apakah operasi tersebut sudah tidak lagi menjadi opsi, Trump menjawab, “Jika kita menandatangani kesepakatan ini, maka ya.”
Dalam unggahan media sosial sebelumnya, Trump juga menegaskan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap Iran “akan tetap diberlakukan sepenuhnya sampai transaksi ini selesai.”
Pada Rabu, Iran menyatakan Selat Hormuz akan ditutup bagi semua jenis kapal, mengindikasikan bahwa Teheran akan memperketat kendalinya atas jalur perairan tersebut. Klaim itu muncul pada hari yang sama ketika Trump mengatakan militer AS telah membantu lebih dari 200 kapal komersial melintasi selat tersebut, sehingga “lebih dari 100 juta barel minyak” dapat mencapai pasar. Ia juga mengklaim bahwa AS mengendalikan selat itu, “bukan Iran.”
Perundingan antara pihak-pihak yang berkonflik masih terhambat oleh sejumlah isu krusial. Teheran menuntut AS mencairkan miliaran dolar dana Iran yang dibekukan di negara-negara seperti Qatar, sementara Trump menuntut Republik Islam itu menyerahkan atau menghancurkan persediaan uranium yang diperkaya tingkat tinggi. Iran juga menginginkan gencatan senjata di Lebanon, tempat Israel masih berperang melawan Hizbullah, salah satu sekutu utama Teheran.
Trump pada Kamis juga mengatakan kepada Fox News bahwa dirinya telah berbicara langsung dengan pejabat Iran dan meminta mereka menghentikan serangan terhadap aset-aset AS. Ia tidak menjelaskan dengan siapa dirinya berbicara, dalam sebuah langkah yang akan menjadi salah satu contoh langka seorang presiden AS berkomunikasi langsung dengan otoritas Iran.
(bbn)


























