"Beberapa hari ke depan akan menjadi sangat krusial untuk menentukan apakah jalur diplomasi dapat kembali mengambil peran atau justru konflik bergerak menuju siklus eskalasi yang lebih berkelanjutan," kata Jorge Leon, Kepala Analisis Geopolitik di konsultan energi Rystad Energy, seperti dikutip Bloomberg News.
Dari dalam negeri, pasar obligasi domestik kembali mencatat aksi jual. Imbal hasil tenor 10 tahun kembali naik 10,9 basis poin ke 7,45%, tenor 11 tahun naik 59,5 bps jadi 7,52%, tenor 8 tahun naik 17,9 bps menjadi 7,46%, dan tenor 5 tahun naik 1,7 bps menjadi 7,47%.
Pelemahan rupiah dan aksi jual di pasar obligasi pada perdagangan hari ini, menunjukkan bahwa tekanan yang terjadi belum sepenuhnya berasal dari faktor domestik. Pelemahan rupiah berlangsung bersamaan dengan mayoritas mata uang Asia, menandakan bahwa pasar sedang melakukan repricing terhadap risiko global akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Meski begitu, tantangan terbesar rupiah sebagian datang dari persepsi risiko terhadap aset domestik. Kenaikan tajam imbal hasil di pasar obligasi di seluruh tenor hari ini menunjukkan investor masih meminta premi risiko yang lebih tinggi untuk menempatkan dana mereka di pasar Indonesia.
Namun, data Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia hari ini setidaknya dapat menjadi penyeimbang sentimen. Memang, data penjualan eceran April menunjukkan kontraksi konsumsi pasca-Lebaran, namun diperkirakan akan mulai mereda. Penjualan ritel Mei diperkirakan hanya terkontraksi 0,9% secara bulanan, membaik dari kontraksi 11,6% pada April.
Ekspektasi penjualan enam bulan ke depan juga naik menjadi 149,4, dan mengindikasikan pelaku usaha masih optimistis terhadap prospek permintaan domestik pada paruh kedua tahun ini.
(dsp/aji)



























