Logo Bloomberg Technoz

Sejak AS dan Israel mulai menggempur Iran pada 28 Februari lalu, Teheran beserta kelompok proksinya telah meluncurkan rentetan serangan rudal dan drone yang menyasar infrastruktur minyak, kawasan industri, hingga fasilitas militer AS di seluruh area Teluk. Sejauh ini, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Bahrain dilaporkan mengalami kerusakan fasilitas. Kontak senjata pun terpantau masih berlanjut antara Israel dan Hizbullah di Lebanon.

Di Washington, pemerintahan Presiden Donald Trump mulai menggulirkan rencana untuk mengalihkan aset-aset Iran yang dibekukan di AS. Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk membantu negara-negara sekutu di Teluk Persia membangun kembali wilayah mereka dari kerusakan akibat serangan Iran.

Dalam wawancara yang disiarkan pada hari Minggu, Trump menegaskan bahwa dirinya tidak akan mencairkan aset Iran apa pun atau mencabut sanksi terhadap negara tersebut sebagai bagian dari kesepakatan awal.

"Jika mereka bersikap baik, jika mereka menunjukkan kinerja yang baik, baru kita mulai berbicara [tentang pencairan aset]," ujar Trump kepada Kristen Welker dalam wawancara program Meet the Press di saluran NBC yang direkam pada hari Jumat pekan lalu.

Sebaliknya, Teheran bersikeras bahwa aset-aset tersebut harus segera dicairkan. Perselisihan ini berisiko menggagalkan diskusi mengenai perpanjangan gencatan senjata, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta dialog masa depan terkait program nuklir Iran.

Di tengah kebuntuan ini, Pakistan yang merupakan negara tetangga Iran, mengambil peran penting sebagai mediator. Kementerian Luar Negeri Pakistan pada hari Minggu menyatakan bahwa Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi telah bertemu dengan diplomat papan atas Iran, Abbas Araghchi, di Teheran untuk menyerahkan surat khusus dari Perdana Menterinya kepada Pemimpin Tertinggi Iran. Kendati demikian, tidak ada rincian lebih lanjut mengenai isi surat tersebut.

Trump, yang selama berbulan-bulan menyatakan Iran berada di ambang kehancuran, mengakui dalam wawancara NBC bahwa negara itu masih memiliki kemampuan rudal dan drone. Ia memperkirakan sekitar 21% hingga 22% persenjataan rudal Iran masih tersisa.

“Itu masih banyak rudal, tetapi tidak seperti saat pertama kali kami menyerang,” ujarnya kepada NBC saat melakukan kunjungan ke Wisconsin.

Sebelumnya pada Jumat, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa AS “meraih keberhasilan besar terhadap Iran” dan bahwa negara tersebut “tidak berada dalam posisi untuk memiliki senjata nuklir.”

Gencatan senjata menghadapi ujian terbesarnya pada Rabu lalu ketika serangan Iran menewaskan satu orang di bandara utama Kuwait dan melukai puluhan lainnya. Bahrain juga menjadi sasaran serangan, sementara AS menyerang sebuah kapal tanker minyak yang menuju Iran. Kuwait menjadi salah satu target utama Teheran selama masa gencatan senjata berlangsung.

Pertempuran antara pasukan Israel dan Hizbullah terus berlanjut sepanjang akhir pekan. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan telah mencegat dua proyektil yang ditembakkan dari Lebanon ke wilayah Israel pada Minggu.

Israel kemudian membalas dengan menyerang dua bangunan apartemen di pinggiran selatan Beirut, yang menewaskan dua orang dan melukai 11 lainnya.

Pekan lalu, Hizbullah menolak gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang dimediasi AS dan diumumkan Departemen Luar Negeri AS hanya beberapa jam sebelumnya.

Iran menegaskan bahwa gencatan senjata di Lebanon harus tercapai terlebih dahulu sebelum kesepakatan dengan AS dapat diwujudkan. Seorang penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mengatakan kepada CNN bahwa “bola kini berada di tangan Trump” terkait kemungkinan tercapainya kesepakatan.

Dalam wawancara NBC tersebut, Trump juga menyatakan ketidaksetujuannya terhadap cara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjalankan perang di Lebanon.

“Saya ingin Lebanon memiliki kehidupan yang lebih baik,” kata Trump dalam wawancara yang ditayangkan Minggu di Meet the Press. “Saya ingin melihat serangan terhadap Hizbullah dilakukan dengan lebih terukur. Saya pikir harus lebih terukur. Dan kami bisa membantu mereka untuk itu.”

Penutupan efektif Selat Hormuz sejak awal perang telah memicu lonjakan harga minyak global dan meningkatkan kekhawatiran akan gelombang inflasi baru. Kenaikan harga bahan bakar menjadi isu sensitif bagi pemilih Amerika Serikat dan berpotensi merugikan Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu yang akan digelar dalam beberapa bulan mendatang.

Meski demikian, Trump kembali mengecilkan dampak kenaikan harga minyak pada Jumat.

“Orang-orang mengira situasinya akan jauh lebih buruk,” ujarnya kepada wartawan. “Hari ini saya melihat harganya US$96 per barel. Banyak orang mengira akan mencapai US$300 per barel.”

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menutup pekan di atas US$90 per barel, sementara minyak acuan global Brent ditutup mendekati US$93 per barel. Meskipun harga telah turun dari puncaknya sejak perang dimulai pada 28 Februari, level tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik pecah.

(bbn)

No more pages