Logo Bloomberg Technoz

Wall Street Anjlok, Tertekan Kekhawatiran AI & Eskalasi Perang

News
24 July 2026 06:09

Wall Street atau bursa saham Amerika Serikat. dok:Bloomberg
Wall Street atau bursa saham Amerika Serikat. dok:Bloomberg

Rita Nazareth - Bloomberg News

Bloomberg, Lonjakan harga minyak yang dipicu oleh eskalasi perang Iran menyeret pasar saham dan obligasi ke zona merah. Di saat yang sama, Wall Street juga terguncang oleh munculnya kembali kekhawatiran terkait apakah investasi masif di bidang kecerdasan buatan (AI) bakal membuahkan hasil.

Minyak mentah jenis Brent menembus level US$100 per barel, memicu ketakutan akan lonjakan inflasi dan mendorong imbal hasil (yield) Obligasi Pemerintah AS (Treasury) ke level tertingginya tahun ini. Indeks S&P 500 merosot 1,2%—penurunan terbesarnya dalam sebulan. Indikator saham-saham berkapitalisasi raksasa (megacaps) mencatatkan hari terburuknya sejak kejatuhan akibat isu tarif pada April 2025. Meski mencatatkan kinerja tergolong solid, saham Alphabet Inc anjlok 6,9% setelah menaikkan proyeksi belanja modalnya. Saham Tesla Inc juga merosot 15% seiring merosotnya perolehan laba di tengah kuatnya angka pengiriman kendaraan listrik. Sementara itu, nilai tukar dolar AS menguat.


Kembali memanasnya konflik antara AS dan Iran menunjukkan sedikit tanda-tanda mereda, di mana baik Washington maupun Teheran tidak menunjukkan iktikad untuk mundur atau membuka ruang perundingan baru.

Presiden AS Donald Trump mengancam akan meningkatkan serangan terhadap Iran dan menyatakan bakal memintai pertanggungjawaban negara tersebut atas setiap serangan susulan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman terhadap kapal-kapal di Laut Merah. Trump mengatakan kepada Axios bahwa ia sedang mempertimbangkan "serangan masif" dan "makin dekat untuk mengambil keputusan" terkait langkah tersebut.