Logo Bloomberg Technoz

B50 di Tengah 'Bull Run' CPO Bakal Uji Daya Tahan Industri Sawit

Sabrina Mulia Rhamadanty
23 July 2026 15:30

Kelapa sawit yang telah dipanen dikumpulkan di dekat landasan pemuatan perkebunan PT Bakrie Sumatera Plantations di Kisaran, Sumatra Utara./Bloomberg
Kelapa sawit yang telah dipanen dikumpulkan di dekat landasan pemuatan perkebunan PT Bakrie Sumatera Plantations di Kisaran, Sumatra Utara./Bloomberg

Bloomberg Technoz, Jakarta – Di tengah optimisme lonjakan harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) global, langkah Pemerintah Indonesia memperkencang laju mandatori biodiesel B50 memiliki risiko domino yang cukup serius bagi industri sawit nasional.

Di balik jargon ketahanan energi dan penghematan devisa impor solar, kebijakan penyerapan CPO secara masif di dalam negeri memicu dilema bisnis, kepastian pasokan, hingga kesejahteraan petani sawit.

Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung menjelaskan tingginya harga bahan baku akan langsung mengerek harga produk turunan energi ini di pasar domestik.


"Kenaikan harga CPO global secara otomatis membuat harga biodiesel menjadi jauh lebih mahal. Jika formula patokan harga tidak menyesuaikan realitas biaya produksi yang melonjak, beban insentif dari BPDP akan membengkak secara masif," ujar Tungkot saat dihubungi, Kamis (23/7/2026).

Seorang pekerja memanen buah kelapa sawit di Kabupaten Bogor di Jawa Barat, Indonesia, Senin, 20 Juni 2022. (Dimas Ardian/Bloomberg)

Menurut Tungkot, hal ini akan memperlebar selisih antara Harga Indeks Pasar (HIP) biodiesel dan HIP solar fosil.