Logo Bloomberg Technoz

Menutup Pekan, Rupiah Finis di Rp17.943/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
24 July 2026 16:06

Karyawan menghitung mata uang rupiah di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung mata uang rupiah di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menutup perdagangan pekan ini dengan pelemahan 0,16% ke posisi Rp17.943/US$, seiring meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap tekanan harga minyak mentah yang berpotensi memperlebar defisit fiskal dan neraca perdagangan. 

Meski sore ini harga minyak Brent terpangkas 1,97% ke posisi US$98,72/US$ tetapi masih bertahan di level tinggi dan menyebabkan gejolak di pasar obligasi dunia. 

Harga minyak pada Jumat (24/7/2026), sore (Bloomberg)

Rata-rata imbal hasil (yield) dalam Bloomberg Global Treasury Index melonjak menjadi 3,68%, melampaui puncak yang tercatat tiga tahun lalu dan mencapai level tertinggi sejak krisis keuangan global pada 2008. 


Dalam perdagangan sesi siang, tekanan pada pasar obligasi terlihat dari kenaikan imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) di hampir semua tenor. 

Yield SUN tenor acuan 10 tahun naik 2,1 basis poin (bps) menjadi 7,36%, sementara yield tenor 13 tahun naik paling tajam 8,3 bps ke 7,4%, dan tenor 8 tahun naik cukup tajam 3,4 bps menjadi 7,37%. Tenor jangka pendek pun seperti 2 tahun, naik 2,6 bps menjadi 7,15%.