Posisi rupiah hari ini sudah memasuki level yang paling ditakuti pasar Rp18.000/US$. Bagi pasar, level ini bukan sekadar angka tapi justru mencerminkan kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia di tengah kombinasi tekanan global dan domestik.
Kekhawatiran pasar bukan tanpa alasan. Sepanjang tahun ini rupiah menjadi mata uang terburuk di Asia. Lonjakan harga minyak memperburuk sentimen karena potensi pelebaran defisit makin besar lantaran beban subsidi energi yang tak juga dipangkas pemerintah untuk menjaga daya beli.
Di sisi lain, sejumlah data ekonomi yang dirilis juga menyiratkan bahwa perekonomian tidak dalam kondisi prima. Inflasi Mei melonjak 3,08%, dan tak lagi hanya terjadi pada pangan, tetapi hampir seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga.
Kelompok makanan dan minuman naik 4,94%, transportasi 2,3%, restoran 2,24%, kesehatan 1,70%, pendidikan 1,15%, hingga perawatan pribadi mencapai 10,35%.
Di saat yang sama, iklim politik yang masih sarat dengan ketidakpastian kebijakan. Baru-baru ini, kasus hukum yang menimpa kepala program prioritas Makan Bergizi Gratis juga tak luput perhatian pelaku pasar. Hal ini semakin menambah ketidakpastian yang memberatkan langkah penguatan rupiah.
Di sisi lain, lembaga rating Moody's Ratings untuk pertama kalinya memberikan peringkat kredit Baa2 kepada PT Danantara Investment Management (DIM), entitas pengelola investasi yang berada di bawah struktur Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
Selain itu, pasar tengah dilanda kekhawatiran atas rumor yang merebak terkait penurunan rating oleh S&P Global menjadi BBB- dari sebelumnya BBB.
Di tengah berbagai sentimen ini, Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist, Mega Capital Sekuritas, memperkirakan depresiasi rupiah berpotensi berlanjut hari ini dengan target rentang Rp17.950-18.050/US$.
(dsp/aji)



























