Logo Bloomberg Technoz

Alibi Prabowo Sering ke Luar Negeri: Dunia Sedang Krisis

Dovana Hasiana
02 June 2026 13:50

Hari Lahir Pancasila: Prabowo dorong penegakkan ekonomi Pancasila (Diolah)
Hari Lahir Pancasila: Prabowo dorong penegakkan ekonomi Pancasila (Diolah)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya juga memberikan respons terhadap kritik eks Wakil Menteri Luar Neger Dino Patti Djalal yang menyoroti tingginya mobilitas Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri pada masa jabatannya yang masih berusia satu tahun tujuh bulan. Alasan utamanya, kata dia, Prabowo sebagai presiden baru harus menjalin hubungan baik dan dekat dengan para pemimpin dunia.

Diplomasi ini, kata perwira TNI berpangkat Letnan Kolonel tersebut, sangat penting terutama pada saat dunia tengah berada di kondisi krisis imbas sejumlah perang yang terjadi di banyak wilayah. 

"Kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan. Tidak, kita harus panen hubungan yang baik, lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan, begitu pula sebaliknya. Untuk itu perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antar pemimpin, baik secara langsung diliput media ataupun tertutup. Itulah diplomasi," ujar Teddy dalam unggahan di akun Instagram resmi Sekretariat Kabinet, dikutip Selasa (02/06/2026). 


Dia membantah kunjungan kenegaraan ke luar negeri hanya sebatas ajang seremonial. Dia mengeklaim terdapat beberapa capaian yang didapatkan karena kunjungan kenegaraan tersebut. Pertama, Indonesia resmi menjadi anggota penuh BRICS. Kedua, penyelesaian Indonesia—European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU—CEPA). Dia mengatakan hal ini menyebabkan produk Indonesia yang diekspor ke kawasan Uni Eropa mendapatkan tarif 0%. 

Perlu diketahui, sejumlah produk padat karya seperti alas kaki, tekstil, garmen hingga sektor energi terbarukan dan kendaraan listrik bakal bebas tarif ke Uni Eropa dengan adanya perjanjian IEU—CEPA. Perjanjian ini akan membuka akses ekspor bagi produk Indonesia ke 27 negara anggota Uni Eropa, dan menghapus tarif impor secara signifikan, yakni sebanyak 80% ekspor Indonesia ke Uni Eropa akan menikmati tarif sebesar 0%.