Konsensus Bloomberg: Ekspor Menopang, Konsumsi Domestik Menantang
Redaksi
01 June 2026 12:10

Bloomberg Technoz, Jakarta - Konsensus yang dihimpun Bloomberg memproyeksikan adanya pemulihan kinerja perdagangan luar negeri Indonesia pada periode April 2026. Ekspor diperkirakan melonjak ke 9% secara tahunan, berbalik arah dari kontraksi 3,1% sebelumnya. Sementara impor hanya naik moderat menjadi 2,98% dari 1,51%.
Jika data resmi yang akan dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) besok (2/6/2026) mendekati angka konsensus, maka Indonesia berpotensi kembali mencatat surplus perdagangan dan memperoleh tambahan bantalan bagi rupiah di tengah tekanan global yang masih tinggi.
Akan tetapi, konsensus Bloomberg menghasilkan median proyeksi surplus perdagangan April 'hanya' US$1,31 miliar. Jika terwujud, maka jauh lebih sedkit ketimbang Maret yang mencapai US$3,32 miliar.
Ekspor Indonesia umumnya didorong oleh komoditas alam seperti minyak sawit, nikel, dan batu bara. Harga sejumlah komoditas utama relatif bertahan tinggi selama periode April, sementara permintaan dari mitra dagang utama, terutama di kawasan Asia, mulai menunjukkan tanda stabilisasi. Selain itu, pelemahan rupiah yang terjadi sepanjang bulan April juga turut meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar global.
Namun, angka proyeksi impor yang hanya tumbuh moderat juga mengindikasikan pemulihan ekonomi domestik sepertinya belum sekuat pemulihan permintaan ekspor. Dalam struktur perdagangan Indonesia, impor sering kali menjadi cerminan aktivitas produksi dan investasi. Sebagian besar impor terdiri dari atas bahan baku, barang modal, serta komponen industri yang digunakan untuk proses produksi.




























