Ketika dunia usaha optimis terhadap prospek ekonomi, impor biasanya meningkat karena perusahaan memperluas kapasitas dan menambah investasi.
Pada April lalu, data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dirilis Bank Indonesia (BI) menggambarkan retaknya optimisme kelompok ekonomi menengah-bawah, dengan pengeluaran di bawah Rp5 juta per bulan tercatat turun.
IKK segmen pengeluaran Rp1 juta-2 juta per bulan turun tipis menjadi 114,4 dari 114,7, dan segmen pengeluaran Rp2,1 juta-3 juta per bulan turun menjadi 118,2 dari 118,8.
Pada April, sinyal pesimisme lainnya juga datang dari ekspektasi kegiatan usaha. Kelompok pengeluaran Rp1-2 juta hanya mencatat indeks 112, turun dibanding Februari dan Maret.
Kelompok Rp2,1-3 juta juga mengalami volatilitas tinggi, pada Februari tinggi, lalu merosot di bulan Maret, dan April naik kembali menjadi 119,0. Sementara kelompok Rp3,1-4 juta turun cukup tajam dari 125 menjadi 118,4.
Kondisi ini menggambarkan pelaku usaha kecil dan sektor konsumsi mass market, yang umumnya berupa barang kebutuhan pokok atau konsumsi umum yang biasa disebut Fast Moving Consumer Goods (FMCG), mulai menghadapi tekanan permintaan.
Di tengah tekanan rupiah dan ketidakpastian global yang masih tinggi, pemulihan ekspor tentu jadi kabar baik bagi perekonomian nasional. Tapi, data impor yang masih moderat menimbulkan kekhawatiran, seberapa kuat mesin pertumbuhan domestik masih bisa bekerja.
Sebab, ekonomi yang sehat tak cuma ditopang oleh tingginya permintaan luar negeri terhadap komoditas unggalan, tapi juga oleh aktivitas konsumensi dan investasi yang kuat di dalam negeri.
(dsp/aji)



























