“Makanya jadi sekarang ya mungkin peningkatannya [target lifting 2027] lebih modest, ya artinya lebih enggak terlalu besar seperti yang 2025 dari 2024,” tegas dia.
Moshe menjelaskan, NGL merupakan bagian dari gas alam cair atau liquified petroleum gas (LPG) dan tercatat dalam lifting gas bumi. Dia menyatakan NGL dalam suhu gas bakal berbentuk cair dan terdiri atas molekul propana (C3) dan butana (C4).
“Nah panjangnya rantai karbon sama hidrogen itu yang menentukan kalau itu minyak mentah, kalau itu gas, kalau itu butana, kalau itu metana, propana itu dari panjang–pendeknya dari karbon chain tersebut. Jadi itu beda-beda, beda-beda produk sebenarnya. Nah LPG itu, itu diekstrak dari natural gas. Natural gas yang di dalamnya itu ada propan sama butanya, itu diekstrak,” ujar Moshe.
“Makanya biasanya LPG itu ya masuk ke dalam gas, bukan masuk ke dalam minyak, gitu loh. Kan lucu gitu kan,” tegas dia.
Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan pemerintah menargetkan lifting minyak bumi mencapai 602.000 hingga 615.000 bph dalam KEM-PPKF APBN Tahun Anggaran 2027.
Presiden Prabowo mengatakan target tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
“Lifting minyak bumi ditargetkan 602.000 hingga 615.000 barel per hari,” ujar Presiden dalam agenda penyampaian KEM-PPKF di Gedung Parlemen, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Sementara itu, lifting gas bumi tahun depan ditargetkan di rentang 934.000—977.000 barel setara minyak bumi per hari (boepd).
Di sisi lain, asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam KEM-PPKF 2027 ditetapkan di kisaran US$70—US$95 per barel.
Sekadar informasi, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) mengungkapkan produksi siap jual atau lifting minyak mentah Indonesia pada 2025 mencapai 581.600 bph, jika tidak dijumlahkan dengan besaran NGL sebanyak 24,2 bph.
Adapun, lifting minyak Indonesia sepanjang 2025 tercatat 605.800 bph atau melebihi target APBN 2025 sebanyak 605.000 bph. Sementara itu, pada 2024, capaian lifting tercatat sebesar 579.300 bph dan dilaporkan tanpa adanya NGL.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menjelaskan pada 2025 NGL masuk ke dalam perhitungan lifting minyak sebab secara fluida hidrokarbon yang keluar dari sumur migas memiliki karakteristik berbeda.
Ada sumur dengan tiga fasa yakni minyak, gas, dan air; ada yang dua fasa minyak dan gas; serta ada yang hanya satu fasa, baik seluruhnya minyak maupun seluruhnya gas.
Pada sumur tiga fasa, Djoko menjelaskan gas ikutan yang muncul di permukaan pada lapangan minyak sebelumnya banyak yang dilakukan flaring, meskipun kini dibatasi oleh ketentuan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
Selain itu, air hasil produksi juga dikelola sesuai aturan lingkungan, baik melalui injeksi kembali ke reservoir maupun pembuangan yang memenuhi baku mutu lingkungan.
“Untuk mencapai target APBN kita lihat kaji regulasi UU kontrak standar internasional molekul itu sendiri itu NGL yang merupakan bahan baku LPG gitu masuk ke mana, ketika kita masukan ke dalam bagian dari lifting kita bisa mencapai target APBN,” kata Djoko menjawab pertanyaan anggota Komisi XII DPR ihwal NGL, medio Februari.
Djoko mencontohkan, di Lapangan Cepu, gas ikutan mencapai 155 million standard cubic feet per day (MMscfd) dimanfaatkan bersama air produksi untuk injeksi bertekanan tinggi guna meningkatkan produksi minyak melalui metode enhanced oil recovery (EOR).
Sementara itu, pada sumur dua fasa, gas yang sebelumnya dibakar kini makin dimanfaatkan seiring dorongan kebijakan zero gas flaring.
Untuk sumur satu fasa, minyak langsung dikirim ke kilang, sedangkan gas diperlakukan sesuai komposisinya yang terdiri dari molekul C1 hingga C7+.
Gas dapat disalurkan melalui pipa, diolah menjadi liquified natural gas (LNG) dengan proses pendinginan hingga minus 160 derajat atau menjadi compressed natural gas (CNG).
“Gas dalam reservoir tekanan tinggi temperatur tinggi ketika ke permukaan itu sebagian terkondensasi menjadi kondensat,” ungkap dia.
“Seperti jalan pagi hari ada embun, pagi itu temperatur dingin, perubahan pagi udara terkondensasi menjadi embun, sama dengan gas jadi kondensat asalnya dari gas, tetapi begitu sudah terkondensasi masuklah menjadi minyak. Sejak zaman kita merdeka lifting kita terdiri dari minyak mentah dan kondensat,” tegas Djoko.
(azr/wdh)





























