Logo Bloomberg Technoz

Komponen NGL Dinilai Picu Stagnasi Target Lifting Minyak 2027

Azura Yumna Ramadani Purnama
31 May 2026 20:00

Central Gathering Station 10, salah satu fasilitas produksi di Wilayah Kerja PT Pertamina Hulu Rokan (Dok. PHE)
Central Gathering Station 10, salah satu fasilitas produksi di Wilayah Kerja PT Pertamina Hulu Rokan (Dok. PHE)

Bloomberg Technoz, Jakarta – Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas) memandang target produksi siap jual atau lifting minyak 2027 di rentang 602.000—615.000 barel per hari (bph) hampir tidak meningkat dari target tahun ini sebesar 610.000 bph.

Ketua Komite Investasi Aspermigas Moshe Rizal menilai target lifting minyak dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027 tersebut terbilang stagnan, sebab realisasi lifting tetiba melonjak pada 2025 menjadi 605.000 bph usai komponen natural gas liquid (NGL) dicatat dalam kinerja lifting.

Moshe memandang peningkatan lifting minyak yang terjadi belakangan hanya dipengaruhi penambahan NGL dalam pencatatan produksi siap jual, padahal investasi dan eksplorasi di hulu migas belum dapat mendorong peningkatan produksi siap jual minyak mentah Indonesia.

Para pekerja menggunakan ember untuk mengambil sampel minyak mentah di anjungan pengeboran multi-sumur./Bloomberg-Andrey Rudakov

Walhasil, Moshe menilai torehan lifting Indonesia bakal sulit melonjak jauh seperti yang terjadi 2025 sebab belum terdapat tambahan produksi signifikan dari wilayah kerja (WK) baru.

“Dari 2024—025 itu, naik itu karena definisi bukan karena real production peningkatan produksi. Itu yang kita selalu apa, warning kepada pemerintah. Jangan seperti itu, kalau naik produksi, naik bener gitu, jangan karena definisi. Di dalam angka 2025 itu, ternyata dimasukkan yang namanya NGL, natural gas liquid. Termasuk itu adalah LPG,” kata Moshe ketika dihubungi, Minggu (31/5/2026).