Angka inflasi yang lebih rendah ini berpotensi mempersulit ekspektasi pasar terhadap rencana Bank of Japan (BOJ) untuk menaikkan suku bunga bulan depan. Kendati demikian, para pembuat kebijakan tetap waspada bahwa tekanan inflasi dapat meluas ke luar sektor energi akibat dampak perang di Iran. Banyak perusahaan yang terpantau terus membebankan kenaikan biaya tenaga kerja dan bahan baku kepada konsumen. Anggota Dewan Kebijakan BOJ Junko Koeda menyoroti meningkatnya kecenderungan perusahaan tersebut dalam pidatonya hari Kamis, senada dengan pernyataan Gubernur BOJ Kazuo Ueda awal pekan ini.
PM Takaichi menyatakan bahwa anggaran tambahan tersebut tidak akan membutuhkan terlalu banyak pembiayaan utang baru. Namun, pasar tetap mengkhawatirkan potensi pembengkakan pengeluaran pemerintah. Sentimen ini memicu aksi jual besar-besaran pada obligasi pemerintah Jepang, yang menjadi bagian dari tren kenaikan imbal hasil (yield) obligasi global akibat kekhawatiran inflasi akibat perang.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa harga beras naik 0,6% secara tahunan. Angka ini berbanding terbalik dengan lonjakan tajam sebesar 98.4% yang terjadi pada April 2025 lalu. Sementara itu, inflasi sektor jasa—yang menjadi indikator acuan BOJ untuk mengukur kekuatan fundamental harga—melambat ke level 0,9%.
Proyeksi internal BOJ sendiri memperkirakan inflasi akan meningkat secara signifikan pada tahun fiskal yang dimulai bulan lalu. Anggota Dewan BOJ Koeda dan Kazuyuki Masu, yang pada bulan April lalu sama-sama sepakat untuk mempertahankan suku bunga, baru-baru ini menyatakan bahwa bank sentral harus menaikkan suku bunga sambil tetap mencermati risiko terhadap perekonomian.
Di sisi lain, pelemahan mata uang yen membuat biaya impor Jepang menjadi jauh lebih mahal, meskipun pemerintah diduga telah melakukan beberapa kali intervensi untuk menyokong mata uang tersebut. Nilai tukar yen berada di angka rata-rata 159,18 per dolar AS pada bulan April, melemah dibanding periode yang sama tahun lalu di level 143,07 per dolar AS, serta jauh di bawah rata-rata 10 tahunnya di posisi 124,77 per dolar AS.
Mata uang Jepang tersebut juga gagal mendapatkan sentimen positif dari peringatan Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama, maupun dukungan dari Menteri Keuangan AS Scott Bessent agar BOJ menjalankan kebijakannya "dengan sukses". Kedua pejabat tersebut menyampaikan pernyataan mereka di sela-sela pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara G-7 di Paris pekan ini.
(bbn)































