AS bersikeras menuntut Iran untuk menyerahkan seluruh rencana pengayaan nuklirnya dan membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal komersial—tuntutan yang ditolak oleh Teheran. Sebaliknya, Iran menuntut agar AS terlebih dahulu menghentikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan mereka.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak berada di ambang kehancuran atau siap menyerah.
"Memaksa Iran untuk menyerah melalui koersi (tekanan fisik/militer) tidak lebih dari sekadar ilusi," cuit Pezeshkian melalui akun resminya di platform X.
Trump kemudian kembali mengulang tenggat waktu ketat yang telah ia tetapkan, dan kerap ia perpanjang sendiri, sejak awal konflik pecah.
"Percayalah, jika kita tidak mendapatkan jawaban yang tepat, semua ini akan berjalan sangat cepat," ujar Trump usai memberikan pidato di Akademi Penjaga Pantai AS. "Kita semua sudah siap bergerak. Kita harus mendapatkan jawaban yang tepat."
Sebelumnya, Iran memperingatkan akan melakukan pembalasan di luar kawasan Timur Tengah jika AS atau Israel kembali melancarkan serangan, meski belum jelas sejauh mana kemampuan Teheran untuk melakukannya.
“Jika agresi terhadap Iran kembali terjadi, perang regional yang sebelumnya dijanjikan kali ini akan meluas melampaui kawasan,” demikian pernyataan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang dikutip kantor berita semi-resmi Tasnim. IRGC, yang pengaruhnya dalam pengambilan keputusan Iran semakin besar sejak perang pecah pada akhir Februari, berjanji akan memberikan “serangan menghancurkan di tempat-tempat yang tidak Anda duga.”
Iran sebelumnya menembakkan drone dan rudal ke sejumlah negara ketika AS dan Israel memulai perang. Selain Israel dan negara-negara Arab Teluk, target serangan juga mencakup Turki dan Siprus. Meski kemampuan militernya terpukul akibat serangan udara hingga tercapainya gencatan senjata pada 8 April, Iran dinilai masih memiliki kemampuan menyerang negara-negara di kawasan.
Trump sebelumnya mengatakan dirinya menunda serangan lanjutan atas permintaan sekutu-sekutu regional AS.
Harga minyak turun lebih dari 5 persen, dengan Brent diperdagangkan di kisaran US$105 per barel, setelah pelaku pasar mengurangi premi risiko menyusul pernyataan Trump yang memunculkan harapan bahwa arus energi melalui Selat Hormuz dapat kembali normal.
Saham-saham AS juga diperkirakan menghentikan tren penurunan tiga hari berturut-turut pada Rabu, seiring meredanya harga minyak dan munculnya harapan berakhirnya konflik, serta menjelang laporan keuangan Nvidia Corp.
Meski demikian, pelaku industri energi memperingatkan bahwa arus minyak dari Timur Tengah tidak akan sepenuhnya pulih hingga setidaknya 2027, bahkan jika konflik Iran berakhir sekarang juga.
“Setelah hampir tiga bulan perang, tujuan Trump tampaknya masih jauh dari tercapai, sementara Iran muncul dalam kondisi terluka tetapi semakin percaya diri dengan pengaruh global yang baru,” tulis analis Bloomberg Economics, Dina Esfandiary, Becca Wasser, dan Ziad Daoud. “Risiko eskalasi lebih lanjut masih ada karena kedua pihak masih terlalu jauh dari kesepakatan—tetapi pertempuran tambahan kemungkinan juga tidak akan menghasilkan terobosan strategis.”
Axios melaporkan Trump melakukan percakapan tegang dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Selasa, di mana Trump memaparkan rencana AS untuk mengakhiri konflik secara formal sebelum negosiasi final selesai.
Meski Israel mengisyaratkan ingin kembali melancarkan serangan ke Iran di masa mendatang, Trump mengatakan kepada wartawan pada Rabu bahwa Netanyahu akan “melakukan apa pun yang saya inginkan.”
Trump juga membantah laporan Tasnim yang menyebut AS menawarkan pelonggaran sanksi minyak sebagai bagian dari negosiasi damai. “Tidak, saya tidak memberikan pelonggaran apa pun sampai mereka menandatangani kesepakatan. Ketika mereka menandatangani kesepakatan, kami bisa membangun kembali negara itu dan menjadikannya negara yang baik bagi rakyatnya, tetapi tidak, kami belum menawarkan apa pun.”
Hingga kini Iran tetap menolak tuntutan Trump agar menyerahkan uranium yang telah diperkaya tingkat tinggi atau berjanji tidak lagi memprosesnya di masa mendatang.
Kedua negara juga masih bersitegang mengenai status Selat Hormuz. Militer AS pada Rabu sempat menaiki kapal tanker berbendera Iran di Teluk Oman sebelum akhirnya melepaskannya.
Kapal bernama M/T Celestial Sea itu “diduga mencoba melanggar blokade AS dengan berlayar menuju pelabuhan Iran,” kata Komando Pusat AS. Setelah dilakukan pemeriksaan, pasukan AS melepaskan kapal tersebut dan mengarahkan awak kapal untuk mengubah haluan.
Iran mengklaim sebanyak 26 kapal—termasuk tanker, kapal kontainer, dan jenis kapal lainnya—melintasi Selat Hormuz dalam sehari terakhir “dengan koordinasi dan pengamanan dari Angkatan Laut IRGC.” Jumlah itu tergolong tinggi untuk ukuran beberapa pekan terakhir, meski masih jauh di bawah tingkat lalu lintas sebelum perang. Klaim tersebut menegaskan keinginan Iran untuk menunjukkan kendali atas jalur pelayaran itu.
IRGC, yang mengunggah pernyataan tersebut di platform X, tidak menjelaskan asal maupun tujuan kapal-kapal tersebut, serta tidak memberikan bukti atas klaim itu. Sebelumnya, media Iran melaporkan Korea Selatan mengikuti langkah China dengan berkoordinasi dengan IRGC demi memastikan kapal-kapalnya dapat melintasi selat dengan aman.
(bbn)





























