Dia mencontohkan banyak pelabuhan di Indonesia yang, semisal, mengirimkan 10.000 ton batu bara, tetapi hanya melaporkan 5.000 ton. Hal tersebut juga terjadi pada komoditas minyak sawit mentah.
“Kita hitung random bahwa kita tahu ada perbedaan yang dilaporkan dan yang tidak dilaporkan itu sering mencapai 50% dari keadaan sebenarnya.” ujar Prabowo.
Potret Ekspor Indonesia
Batu bara, minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO), dan besi-baja merupakan komoditas andalan ekspor Indonesia.Nantinya, ekspor ketiga komoditas itu akan dipegang langsung oleh negara melalui badan usaha yang menjadi pemain tunggal.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total nilai ekspor Indonesia sepanjang 2025 adalah US$ 282,92 miliar. Naik 6,15% dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari jumlah tersebut, nilai ekspor batu bara sepanjang 2025 adalah US$ 24,48 miliar. Artinya, si batu hitam menyumbang 8,65% dari total ekspor.
Kemudian nilai ekspor CPO sepanjang 2025 tercatat US$ 29,01 miliar. Lebih besar dari batu bara, kontribusi CPO terhadap ekspor nasional adalah 10,25%.
Lalu nilai ekspor besi-baja tahun lalu ada di US$ 27,97 miliar. Menyumbang 9.88% terhadap ekspor Indonesia.
Total nilai ekspor tiga komoditas utama tersebut adalah US$ 81,46 miliar. Sama dengan 28,79% dari total ekspor Indonesia.
Artinya, hampir 30% ekspor Indonesia nantinya akan langsung berada di bawah kendali negara.
Untuk mendukung pelaksanaan ekspor komoditas satu pintu, Danantara telah membentuk entitas baru bernama PT Danantara Sumberdaya Indonesia.
“Mulai Januari 2027, transaksi ini baru akan diberlakukan melalui platform kami. Platform tersebut sudah kami siapkan,” kata Rosan P Roeslani, CEO Danantara.
(red)


























