Logo Bloomberg Technoz

Aksi Jual Melanda Pasar Obligasi Dunia

Redaksi
18 May 2026 14:15

Ilustrasi Surat Utang (Diolah)
Ilustrasi Surat Utang (Diolah)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pasar obligasi pemerintah di hampir seluruh dunia mengalami aksi jual besar-besaran seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi global. Gelombang itu pun mulai menjalar lebih dalam ke pasar Asia. 

Proyeksi Bloomberg Economics menunjukkan kenaikan harga minyak mentah akan mendorong inflasi global lebih tinggi sepanjang 2026. Dalam skenario dasar (base case), yang mengasumsikan konflik berintensitas rendah terus berlanjut, rata-rata inflasi dunia berbobot PDB diperkirakan mencapai 4,2% pada kuartal IV-2026, naik dari 3,1% pada kuartal IV-2025, sebelum kembali mereda pada tahun berikutnya.

Tahun ini, negara-negara maju secara keseluruhan diperkirakan mengalami puncak inflasi di kisaran 3,4%, lebih tinggi dibanding 2,5% pada akhir 2025. Sementara itu, kelompok negara emerging markets di luar China diproyeksikan menghadapi lonjakan inflasi yang lebih tajam, yakni menjadi 7,6% dari sebelumnya 5,8%.


Kekhawatiran akan inflasi global akibat lonjakan harga minyak mendorong investor melepas obligasi pemerintah di hampir seluruh kawasan dan mengalihkan sebagian aset mereka pada mata uang dolar AS yang sampai saat ini masih dianggap sebagai safe haven.

Ini juga turut mengerek kenaikan pada yield US Treasury alias surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun yang naik 2,2 bps ke 4,61%.