Melansir data Bloomberg pada 14:08 WIB, tekanan terjadi pada hampir semua pasar di kawasan Asia. Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik 1,8 bps menjadi 2,71% mempertahankan posisinya di level tertinggi sejak dekade 90-an.
Sementara itu, obligasi Australia juga mengalami tekanan cukup besar dengan yield tenor 10 tahun naik 4,2 bps ke 5,11%.
Di Asia Tenggara, tekanan juga mulai terlihat merata. Yield obligasi Singapura tenor 10 tahun naik tajam 7,3 bps menjadi 2,17%, sedangkan Selandia Baru naik 7,5 bps ke 4,80%. Hal ini menandakan bahwa sell-off tidak hanya terjadi di emerging markets, tetapi juga sudah meluas ke obligasi negara maju Asia-Pasifik.
Malaysia memang relatif lebih stabil dibanding negara lain, dengan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun bertahan di kisaran 3,50%, naik 7,1 bps. Namun, stabilitas tersebut lebih mencerminkan sikap wait and see investor ketimbang meredanya tekanan global.
Pasar sepertinya masih mencermati apakah kenaikan harga energi akan mulai memengaruhi inflasi domestik dan memicu perubahan arah kebijakan moneter Bank Negara Malaysia dalam beberapa bulan mendatang.
Tekanan paling besar justru terlihat di pasar obligasi pemerintah India, tenor 10 tahun naik 6,7 bps menjadi 7,12%, sedangkan obligasi global Filipina berdenominasi dolar AS melonjak 11,5 bps ke 5,47%.
Indonesia juga mulai terkena imbas sell-off global tersebut. Yield INDON tenor 10 tahun naik tajam 12,6 bps ke 5,48%. Kondisi ini mencerminkan tekanan keluar modal asing dari pasar obligasi dolar Asia.
Sementara itu, yield SUN domestik tenor 10 tahun masih berada di level 6,65% dan relatif tertahan pada perdagangan terakhir. Namun, kondisi ini berpotensi berubah cepat mengingat spread antara INDON dan US Treasury mulai menyempit tajam.
Dengan yield US Treasury 10 tahun sudah mendekati 4,6%, daya tarik carry trade di pasar obligasi domestik mulai tergerus.
Pasar Asia kini sepertinya tengah menghadapi kombinasi tekanan yang cukup berat. Di satu sisi, lonjakan harga minyak akibat konflik Iran dan belum normalnya jalur distribusi energi di Selat Hormuz meningkatkan risiko inflasi impor.
Di sisi lain, kenaikan yield US Treasury membuat investor global kembali memindahkan dana ke aset dolar yang dianggap lebih aman. Tekanan ini terlihat jelas dari pergerakan harga obligasi di kawasan.
Negara-negara dengan yield rendah seperti Taiwan dan China memang relatif stabil, tetapi pasar dengan yield lebih tinggi seperti Australia, India, Filipina, dan Indonesia mulai mengalami repricing agresif.
Kondisi ini menunjukkan pasar semakin serius memperhitungkan skenario suku bunga tinggi bertahan lebih lama atau higher for longer. Fokus investor kini tampaknya bukan lagi pada kapan bank sentral mulai memangkas suku bunga, melainkan pada potensi inflasi global kembali memanas akibat shock energi yang terus berlanjut.
(dsp/aji)


























