Logo Bloomberg Technoz

“Saya tiap hari macet di jalan, tetapi di negara lain ada yang sudah jalan kaki. Artinya di kita masih cukup, cadangan masih tersedia, baik itu untuk BBM, bensin, solar maupun LPG,” tegas dia.

Sejumlah pengendara mengantre mengisi BBM di SPBU Pertamina, Jakarta Selatan, Selasa (31/3/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Rupiah menutup perdagangan Selasa (12/5/2026), dengan pelemahan 0,51% di Rp17.500/US$. Ini merupakan posisi penutupan terlemah dalam sejarah.

Dalam sesi perdagangan kemarin siang, rupiah sempat menyentuh Rp17.511/US$, tertekan berbagai sentimen domestik dan faktor eksternal.

Adapun, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni relatif stabil di level US$102,15/barel pada pukul 06.03 waktu Singapura. Sementara itu, Brent untuk pengiriman Juli ditutup naik 3,4% menjadi US$107,77/barel pada Selasa.

Adapun, anggaran subsidi energi dalam APBN 2026 mencapai Rp210,1 triliun, naik 14,52% dibandingkan dengan outlook belanja subsidi pada APBN 2025 sebesar Rp183,9 triliun.

Secara terperinci, pemberian subsidi menyasar kepada komponen belanja Jenis BBM Tertentu dan LPG Tabung 3 kilogram sebesar Rp105,4 triliun dan listrik sebesar Rp104,6 triliun.

Anggaran subsidi Jenis BBM Tertentu dan LPG Tabung 3 kilogram itu naik 11,2% dari outlook tahun anggaran 2025 sebesar Rp94,79 triliun.

Sementara itu, perhitungan anggaran subsidi jenis BBM Tertentu dan LPG Tabung 3 kilogram periode 2026 menggunakan asumsi kurs dan subsidi tetap minyak solar Rp1.000/liter.

Adapun, volume BBM jenis solar dipatok sebesar 18,63 juta kiloliter dan minyak tanah sebesar 526.000 kiloliter.

Di sisi lain, anggaran subsidi listrik turut mengalami kenaikan sebesar 17,5% dari posisi outlook APBN 2025 sebesar Rp89,07 triliun.

(azr/wdh)

No more pages