Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Masih Tertekan, Potensi Tembus Kisaran Rp17.900/Dolar AS

Tim Riset Bloomberg Technoz
13 May 2026 08:25

Karyawan menghitung mata uang rupiah di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung mata uang rupiah di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai kontrak rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) masih berada dalam posisi lemah. Hari ini (13/5/2026) memang stagnan, namun posisinya melampaui angka psikologis di Rp17.519/US$, setelah kemarin melemah cukup dalam 0,42%. 

Tak lama berselang, rupiah offshore kembali melanjutkan pelemahannya 0,01% ke posisi Rp17.521/US$. Indeks dolar AS berada di level 98,32, dan mata uang kawasan masih bergerak beragam dengan kecenderungan melemah, terutama won Korea Selatan. 

Pergerakan mata uang kawasan pada Rabu pagi (13/5/2026). (Bloomberg)

Harga minyak mentah Brent kembali melambung ke posisi US$107,17 per barel. Membuat mata uang kawasan yang bergantung pada pasokan minyak mentah dari Timur Tengah semakin tertekan. 


Sebab, perang belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berakhir dengan pengajuan kembali proposal perdamaian antara AS dan Iran oleh masing-masing pihak. 

Sementara dari dalam negeri, belum ada sentimen yang bisa memperkuat posisi tawar rupiah. Secara umum, sentimen investor sedang buruk terhadap pasar Indonesia lantaran kondisi ruang fiskal yang sempit.