Logo Bloomberg Technoz

Sayangnya, dia tidak menampik biaya energi merupakan salah satu komponen biaya tertinggi dalam operasional pertambangan. 

Dia menyatakan perseroan tak hanya memanfaatkan pembangkit dari diesel, tetapi turut menggunakan pembangkit listrik dari batu bara.

“Sementara ini kami mencoba memaksimalkan pembangkit listrik tenaga batu bara karena tersedia di Indonesia untuk pasokan dan lainnya serta mencoba mengurangi konsumsi bahan bakar diesel. Ini akan membantu kami dalam mengelola struktur biaya dari sisi energi pada operasi tembaga,” ujar dia.

Harga Diesel Asia Jauh di Atas Level Pra-Perang. (Bloomberg)

Beralih ke EV

Di sisi lain, Chief Executive Officer PT Arutmin Indonesia Ido Hotna Hutabarat mengungkapkan, dalam industri pertambangan, batu bara bahan bakar menyumbang sekitar 30% dari total biaya operasional.

Dengan terjadinya kenaikan harga bahan bakar, Ido mengklaim perseroan mulai menggunakan kendaraan berbasis baterai listrik atau electric vehicle (EV).

Saat ini, Ido menyampaikan baru mobil listrik yang digunakan oleh Arutmin dalam operasional. Ke depan, dia berencana mulai mengonversi alat berat perseroan dari sebelumnya berbahan bakar solar menjadi alat berat EV.

“Karena batu bara lebih banyak menggunakan truck and shovel, jadi kami baru mulai menggunakan mobil listrik, truk listrik. Saat ini mobil listrik, mungkin berikutnya excavator, tetapi itu membutuhkan investasi lebih besar pada sumber listrik. Ya, jadi memang kami menuju ke sana, lebih banyak ke kendaraan listrik,” kata Ido dalam kesempatan yang sama.

“Kami membutuhkan ketersediaan bahan bakar, bukan hanya harga tetapi juga ketersediaannya. Itu sebabnya sangat penting perang harus segera berakhir,” tegas dia.

Efisiensi

Sementara itu, Presiden Direktur Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) Rachmat Makkasau memandang kunci dalam menghadapi dampak rambatan dari konflik geopolitik adalah melakukan penambangan secara efisien dan konsisten.

Dia menilai industri pertambangan bakal menghadapi berbagai tantangan baik dari kebijakan domestik ataupun global, sehingga operasional perseroan diklaim dijalankan secara disiplin dan efisien baik ketika ada konflik maupun kondisi normal.

“Karena sesuatu yang naik akan turun. Dan ketika Anda mulai menikmati harga komoditas yang tinggi, lalu tiba-tiba harga berubah, itu akan menghantam Anda. Jadi kita hanya perlu selalu siap dan jangan pernah berpikir tidak akan ada masalah, pasti akan ada masalah. Anda harus selalu menempatkan disiplin dalam operasi sehari-hari,” tegas Rachmat.

Harga solar di seluruh dunia melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir seiring dengan meluasnya konflik di Timur Tengah. Hal ini menekan pasar yang sudah menghadapi pasokan rendah dan menambah beban bagi konsumen.

Harga solar bereaksi kuat terhadap konflik di Timur Tengah, sebagian karena Selat Hormuz merupakan jalur utama untuk pengiriman bahan bakar yang diproduksi di kilang-kilang terdekat.

Kendala pengiriman makin memperketat pasar global, di mana pasokan di Pantai Timur AS sudah rendah setelah musim dingin yang sangat dingin. Biaya pengiriman juga melonjak; Tarif pengiriman produk minyak dari Teluk Timur Tengah ke Eropa Barat Laut melonjak ke level tertinggi sejak 2024.

Di Indonesia, kelangkaan solar telah mendorong percepatan implementasi mandatori campuran 50% biofuel dalam solar atau biodiesel B50.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia berkomitmen untuk mempercepat peningkatan penggunaan bahan bakar nabati di Indonesia, sebab gejolak geopolitik yang terjadi belum dapat dipastikan waktu berakhirnya dan seluruh negara masih berebut pasokan komoditas energi fosil.

“B50 tetap harus ada. Ini survival mode. Jangan karena kita berbicara tentang harga turun, kemudian kita menggantungkan lagi,” kata Bahlil kepada awak media, di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (17/4/2026).

(azr/wdh)

No more pages