Logo Bloomberg Technoz

Freeport Bidik Cuan Lebih dari Perak Usai Harga Naik Gegara Emas

Azura Yumna Ramadani Purnama
13 May 2026 10:00

Sampel inti emas, perak, tembaga, dan molibdenum dipamerkan selama konferensi Asosiasi Penambang dan Pengembang Kanada (PDAC)./Bloomberg-Cole Burston
Sampel inti emas, perak, tembaga, dan molibdenum dipamerkan selama konferensi Asosiasi Penambang dan Pengembang Kanada (PDAC)./Bloomberg-Cole Burston

Bloomberg Technoz, Jakarta – PT Freeport Indonesia (PTFI) mulai mempertimbangkan untuk memperlakukan perak sebagai instrumen safe haven yang potensial di Indonesia, sebab harga komoditas tersebut turut terkerek lonjakan harga emas.

Senior VP Government Relations PTFI Harry Pancasakti menyatakan tren kenaikan harga emas turut mendorong prospek perak sebagai instrumen safe haven yang potensial.

Dengan begitu, perseroan berpotensi mendapatkan keuntungan lebih atas perak yang diproduksi tiap tahunnya. Kapasitas produksi perak PTFI mencapai 200 ton per tahun dan dipasok untuk pasar domestik serta ekspor.


“Ke depan, kami juga berharap perak akan ikut berkembang, karena dengan melonjaknya harga emas belakangan ini, harga perak juga ikut naik dan ini menjadi momentum yang sangat baik bagi kita untuk mulai mempertimbangkan perak sebagai instrumen safe haven di Indonesia,” kata Harry dalam MetConnex 2026, Selasa (12/5/2026).

Perak dore bar di dalam tungku di pabrik peleburan ABC Refinery di Sydney, Australia, Jumat (3/5/2024). (Brendon Thorne/Bloomberg)

Lebih lanjut, Harry mengungkapkan saat ini Freeport memproduksi sekitar 50 ton emas per tahun. Dari besaran itu, sekitar 30 ton per tahun dipasok ke PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) atau Antam.