Peran Thaksin di masa depan masih belum jelas. Sebelum masuk penjara pada September lalu, ia sempat mengisyaratkan kemungkinan untuk kembali ke politik. Partai Pheu Thai miliknya kini memang berada dalam koalisi pemerintahan Perdana Menteri Anutin Charnvirakul. Namun, kekalahan Pheu Thai di posisi ketiga dalam pemilu tahun lalu menjadi kekecewaan besar bagi keluarga Shinawatra, yang partainya selalu menang di posisi pertama pada setiap pemilu sejak 2001 hingga 2019.
“Masa kejayaan Pheu Thai sudah benar-benar berakhir. Thaksin kemungkinan tidak akan bisa mengubah banyak hal,” ujar Purawich Watanasukh, dosen ilmu politik di Universitas Thammasat. “Tetapi Thaksin belum selesai dengan politik Thailand. Dia adalah seorang petarung, dan keluarga Shinawatra masih memiliki urusan yang belum tuntas.”
PM Anutin mengatakan pada hari Sabtu bahwa ia turut bahagia untuk keluarga Shinawatra atas pembebasan Thaksin. Ketika ditanya mengenai potensi drama politik di masa depan, Anutin mengaku belum berpikir sejauh itu dan menegaskan bahwa Thaksin tetaplah sosok yang ia hormati.
Thaksin tetap menjadi figur yang sangat kontroversial di Thailand. Ia memiliki basis dukungan kuat dari pemilih pedesaan, namun menghadapi kebencian dari elit perkotaan. Selama masa jabatannya, konflik antara pendukungnya dan kelompok pro-kemapanan terkadang berujung pada kekerasan. Meski berjasa memulihkan ekonomi Thailand pasca krisis keuangan Asia, reputasinya tercoreng oleh "perang melawan narkoba" yang menewaskan ribuan orang, yang banyak di antaranya diduga merupakan pembunuhan di luar hukum.
Dinasti politik Shinawatra telah melahirkan enam Perdana Menteri Thailand di abad ini, termasuk Thaksin; saudara perempuannya Yingluck Shinawatra yang masih berada di pengasingan; serta putrinya Paetongtarn Shinawatra yang dicopot dari jabatan pada Agustus lalu karena pelanggaran etika terkait penanganan ketegangan perbatasan dengan Kamboja.
Mantan pengusaha ini kembali dari pengasingan pada tahun 2023, tepat saat kandidat Pheu Thai memenangkan pemungutan suara di parlemen untuk menjadi perdana menteri. Thaksin kemudian menerima pengampunan kerajaan yang mengubah hukumannya dari delapan tahun menjadi 12 bulan. Ia sempat menghabiskan enam bulan di rumah sakit kepolisian, namun Mahkamah Agung memutuskan waktu tersebut tidak dihitung sebagai masa tahanan dan mengirimnya kembali ke penjara.
Keputusan tersebut menandai gejolak politik yang melihat dua pemerintahan terkait Thaksin digulingkan dalam waktu kurang dari setahun. Perubahan nasib keluarga Shinawatra ini dipandang sebagai runtuhnya kesepakatan antara Thaksin dan kelompok konservatif yang semula mengizinkannya pulang ke Thailand.
Thaksin kini masih harus menjalani empat bulan masa pembebasan bersyarat, termasuk pengawasan elektronik. Ia juga menghadapi kasus terpisah terkait dugaan pencemaran nama baik kerajaan yang kembali dibuka setelah jaksa agung mengajukan banding atas putusan pengadilan yang sebelumnya membebaskannya dari dakwaan terkait wawancara dengan media Korea Selatan pada 2015.
Thanyaporn mengatakan dirinya masih mengingat masa kemakmuran ekonomi di era pemerintahan Thaksin. Ia juga menyebut program layanan kesehatan universal yang diperkenalkan Thaksin membantu keluarganya membiayai pengobatan kanker stadium empat yang diderita ibunya.
“Kami mencintainya karena dia orang yang baik,” kata Somsri, ibu Thanyaporn yang berusia 63 tahun.
(bbn)































