Logo Bloomberg Technoz

89% Perusahaan di Indonesia Belum Siap Hadapi Serangan Siber

Merinda Faradianti
11 May 2026 16:36

Ilustrasi serangan siber meningkat (Bloomberg)
Ilustrasi serangan siber meningkat (Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Deputy Headmaster IT Program Swiss German University, Charles Lim mengungkap, berdasarkan Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025, sebanyak 89% perusahaan di Indonesia dinilai belum memiliki tingkat kematangan keamanan siber yang memadai untuk menghadapi ancaman serangan digital yang terus meningkat.

Dalam laporan yang sama, hanya 11% organisasi di Indonesia yang dinilai sudah mencapai tingkat cyber maturity atau kesiapan keamanan siber yang dinilai memadai.

Sementara, 54% perusahaan bahkan masih belum memiliki kapabilitas keamanan IT yang cukup. Sementara rata-rata kerugian akibat kebocoran data di Indonesia dapat mencapai sekitar Rp15 miliar.

“Keadaan perusahaan enterprise di negara kita ini tidak dalam keadaan baik-baik saja. Artinya mereka juga selalu diserang,” kata Charles Lim dalam peluncuran whitepaper bertajuk “A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience” bersama Indosat Ooredoo Hutchison, Senin (11/5/2026).

Whitepaper tersebut juga mencatat, pasar enterprise ICT Indonesia diproyeksikan melampaui Rp203,5 triliun pada 2025 dengan pertumbuhan CAGR 14,4%. Namun, pertumbuhan digital tersebut dinilai jauh lebih cepat dibanding kesiapan keamanan siber perusahaan.

“Banyak perusahaan itu tidak siap, kalau kita lihat di sini, 89% itu tidak siap, berarti mayoritas,” sebut Charles.

Ia membandingkan ketahanan siber dengan ketahanan energi nasional. Menurutnya, perusahaan perlu memiliki kemampuan bertahan ketika serangan terjadi, bukan hanya fokus pada pencegahan.

“Ketahanan itu artinya kalau pun terjadi sesuatu, dia masih bisa terus berlangsung. Nah, ini gap yang cukup besar kalau kita lihat dari statistiknya,” ujarnya.

Di sisi lain, implementasi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) juga mendorong organisasi memperkuat kemampuan monitoring dan respons keamanan siber secara real-time, termasuk memenuhi kewajiban pelaporan insiden dalam waktu 72 jam.

Di tengah merebaknya kecanggihan AI, kecerdasan buatan ini ibarat menjadi ‘pedang bermata dua’.

“Di satu sisi, AI membantu kita menemukan kerentanan baru. Tapi itu juga menjadi sebuah ancaman kalau kita tidak memiliki ketahanan siber,” pungkasnya.

Sebagai catatan, laporan perusahaan keamanan siber Kaspersky mencatat kawasan Asia Pasifik menjadi salah satu wilayah dengan peningkatan signifikan dalam serangan infostealer, bahkan mencapai 132%. Secara global, deteksi malware jenis ini naik sekitar 59%, yang menunjukkan strategi utama dalam kejahatan siber modern.