Logo Bloomberg Technoz

Bank investasi itu bahkan memperkirakan yuan dapat bergerak menuju level CNY 6,5/US$ dalam 12 bulan mendatang, jauh lebih kuat dibanding posisi saat ini di kisaran CNY 6,8/US$.

Pandangan Goldman menarik karena muncul di tengah kondisi global yang masih sarat ketidakpastian geopolitik dan volatilitas harga energi.

Selama ini, penguatan dolar AS hampir selalu menjadi faktor dominan yang menekan mata uang emerging markets, termasuk rupiah. Akan tetapi, kali ini terdapat pergeseran penting: sebagian pelaku pasar mulai melihat yuan sebagai jangkar stabilitas baru di kawasan Asia.

Goldman menilai kekuatan fundamental ekonomi eksternal China menjadi alasan utama. Surplus perdagangan Negeri Tirai Bambu terus membesar, daya saing ekspor tetap tinggi, dan arus devisa masih solid. Dalam kondisi seperti itu, apresiasi yuan dipandang sebagai “hasil keseimbangan alami” dari kekuatan ekonomi China sendiri.

Kondisi tersebut menjelaskan mengapa yuan relatif lebih defensif dibanding mata uang Asia lainnya ketika harga minyak melonjak dan tensi geopolitik meningkat.

Mata uang dengan fondasi surplus eksternal besar cenderung lebih tahan menghadapi gejolak global dibanding negara yang masih menghadapi tekanan defisit transaksi berjalan atau ketergantungan impor energi tinggi.

Bagi Indonesia, penguatan yuan sebenarnya dapat menjadi bantalan bagi stabilitas kawasan karena mengurangi dominasi penguatan dolar AS secara menyeluruh. 

Namun di sisi lain, pelemahan rupiah terhadap dolar tetap sulit dihindari selama tekanan harga energi masih tinggi dan arus modal global bergerak menuju aset aman.

Apalagi, Indonesia masih sensitif terhadap arah pergerakan harga minyak mentah dunia yang dapat menyebabkan defisit transaksi berjalan semakin melebar, hingga adanya risiko bertambahnya beban subsidi energi. 

Selain faktor energi, pasar juga mulai mencermati posisi fiskal domestik. Belanja pemerintah yang ekspansif pada awal tahun memang membantu menopang pertumbuhan ekonomi, tetapi kebutuhan pembiayaan yang lebih besar di tengah volatilitas global membuat investor semakin sensitif terhadap risiko fiskal dan stabilitas nilai tukar.

Meski begitu, pergerakan rupiah hari ini akan digerakkan oleh sentimen keyakinan konsumen yang akan diumumkan oleh Bank Indonesia hari ini. 

Data ini penting untuk membaca seberapa kuat optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi enam bulan ke depan. 

Pergerakan IKK ini juga akan jadi petunjuk awal mengenai daya tahan konsumsi rumah tangga, yang selama ini masih menjadi andalan utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah perlambatan global dan tekanan eksternal.

(dsp/aji)

No more pages