Logo Bloomberg Technoz

Stance Moneter Ketat

Likuiditas domestik tampaknya mulai memasuki fase pengetatan baru. Setelah likuiditas sempat membanjiri sistem keuangan selama Ramadan dan Idulfitri, Bank Indonesia kini kembali menarik uang beredar dari pasar secara agresif.

Kas bank umum dan BPR bahkan mengalami penurunan lebih dalam, dari Rp140,4 triliun menjadi Rp105,5 triliun. Artinya, cadangan kas fisik perbankan menyusut hampir Rp35 triliun atau anjlok 24,9% dibanding bulan sebelumnya.

Indikator paling mencolok terlihat pada giro bank umum di Bank Indonesia yang turun drastis dari Rp588,5 triliun menjadi Rp454,2 triliun. Penurunannya mencapai Rp134,4 triliun atau setara kontraksi 22,8% dalam satu bulan.

Turunnya giro perbankan di BI menandakan cadangan likuiditas perbankan mulai terkuras. Kondisi ini dapat mempersempit ruang ekspansi kredit perbankan ke depan, terutama jika pengetatan berlangsung lebih lama.

Pengetatan tersebut tidak lepas dari operasi steriliasi yang masih agresif dilakukan BI. Nilai “pengendalian moneter” naik dari Rp757,9 triliun menjadi Rp849,3 triliun pada April. Kenaikannya mencapai Rp91,4 triliun atau tumbuh 12,1% secara bulanan.

Artinya, BI terus menyerap likuiditas melalui berbagai instrumen seperti SRBI, SVBI, SUVBI, term deposit, hingga repo operasi moneter. Strategi ini memperlihatkan bahwa prioritas utama bank sentral saat ini masih menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, bukan mendorong pelonggaran likuiditas.

Apalagi tekanan eksternal juga belum benar-benar mereda. Aktiva luar negeri bersih atau Net Foreign Assets (NFA) tercatat turun dari Rp2.058,9 triliun menjadi Rp2.021,1 triliun. Penurunan hampir Rp38 triliun ini sejalan dengan berkurangnya cadangan devisa Indonesia pada April 2026.

Cadangan devisa turun selama empat bulan berturut-turut. Sepanjang kuartal I-2016 telah menyusut US$8,2 miliar. Ditambah dengan periode April, total penyusutan cadangan devisa mencapai US$10,27 miliar, di posisi US$146,2 miliar. 

Kondisi ini terjadi lantaran rupiah terus melemah. Secara year-to-date, rupiah telah melemah 3,93%, dan menempati posisi kedua setelah rupee India yang melemah paling dalam 4,88%. 

Sebagai catatan, rupiah di awal tahun 2026 masih di level Rp16.725/US$. Kombinasi tekanan eksternal dan kondisi domestik yang membuat beberapa lembaga kredit menurunkan outlook kredit Indonesia mambawa pelemahan pada rupiah. Selain itu, perang di Timur Tengah memperparah pergerakan rupiah.

Sejak perang AS-Iran pecah pada awal Maret hingga perdagangan kemarin, rupiah telah tergerus 2,95%. Dan ditutup pada level Rp17.373/US$, kemarin. 

(dsp)

No more pages