Selama beberapa tahun terakhir, kekuatan cadangan devisa Indonesia banyak ditopang oleh surplus perdagangan yang besar, terutama dari ledakan harga komoditas global.
Ketika harga batu bara, nikel, dan crude palm oil (CPO) melonjak, aliran devisa hasil ekspor mengalir deras dan memperkuat posisi eksternal Indonesia. Kini, fondasi itu mulai mengalami tekanan.
Pelemahan ekspor menjadi alarm pertama. Permintaan global mulai melambat seiring melemahnya aktivitas manufaktur dunia.
China, yang selama ini menjadi pasar ekspor terbesar Indonesia, menunjukkan perlambatan sektor industri. PMI manufaktur negeri Tirai Bambu tersebut bergerak turun dan mendekati zona kontraksi, menandakan aktivitas produksi yang tidak lagi sekuat sebelumnya. PMI Manufaktur China tercatat melambat dari 52,1 pada Februari 2026 menjadi 50,8 pada Maret 2026.
Dalam perbandingan yang sama, PMI Manufaktur negara-negara ASEAN turun dari 53,8 menjadi 51,8 dan India juga turun dari 56,9 menjadi 53,8. Myanmar yang mencatatkan penurunan indeks manufaktur pada April menjadi 50,9, dari sebelumnya 51,5. Begitu juga Vietnam turun menjadi 50,5 dari 51,2.
Pelemahan aktivitas industri global otomatis menekan kebutuhan bahan baku dan energi dari Indonesia.
Dampaknya mulai terlihat pada kinerja ekspor nasional yang kehilangan momentum. Harga komoditas unggulan tidak lagi berada di puncak siklus seperti dua tahun lalu.
Nilai ekspor migas tercatat senilai US$1,28 miliar atau turun 11,84% secara tahunan. Sedangkan nilai ekspor non-migas ini tercatat turun sebesar US$2,52% dengan nilai US$21,25 miliar.
Penurunan terbesar di antaranya lemak dan minyak hewani/nabati termasuk crude palm oil (CPO) yang turun sebesar 27,02%. Sementara, andil komoditas ini terhadap penurunan ekspor yaitu 3,52%.
Kakao dan olahannya juga mencatatkan penurunan sebesar 50,89% dengan andil 0,75% terhadap total ekspor. Serta kopi teh dan juga rempah-rempah yang juga turun 54,69% dengan andil itu 0,68% terhadap total ekspor.
Tertolong Penerbitan Obligasi
Di tengah tekanan global dan tergerusnya bantalan eksternal, posisi cadangan devisa masih tertolong oleh penerbitan global bond penerintah dan penerimaan pajak serta jasa.
"Perkembangan [cadangan devisa] ini dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa, serta penerbitan global bond pemerintah di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah," sebut Laporan BI.
Artinya, ketahanan eksternal Indonesia saat ini tidak sekadar bertumpu pada ekspor barang, tetapi juga mulai bergantung pada arus pembiayaan dan aliran modal.
Meski Bank Indonesia tidak merinci data penerbitan global bond yang dimaksud, Indonesia pada awal tahun ini tercatat menerbitkan surat utang negara dalam mata uang dolar Amerika Serikat (AS) atau global bonds dengan format SEC-registered senilai US$2,7 miliar atau setara Rp45,6 triliun.
Sebelumnya, pemerintah mengklaim penawaran berhasil menarik minat investor global, dengan total orderbook melebihi US$7,7 miliar.
Di satu sisi, penerbitan global bond yang mampu diserap secara baik oleh pasar mencerminkan kepercayaan investor terhadap Indonesia masih cukup baik. Namun di sisi lain, ketergantungan terhadap arus modal portofolio juga membawa risiko tersendiri karena sifatnya lebih mudah keluar saat sentimen global berubah.
Sejatinya, ketahanan eksternal tidak bisa terus-menerus hanya mengandalkan instrumen moneter dan intervensi pasar. Jika ekspor melemah dalam periode yang cukup panjang, surplus perdagangan tentu akan semakin menyusut, bahkan berpotensi berubah menjadi defisit ketika impor kembali meningkat seiring pemulihan domestik.
Secara keseluruhan, posisi cadangan devisa April 2026 menggambarkan bahwa fondasi eksternal Indonesia memang masih cukup kuat, tetapi tekanan global mulai menggerus ruang stabilisasi. Penurunan devisa saat ini mungkin masih dalam kategori wajar dan terkendali, apalagi di tengah kondisi geopolitik yang tidak kunjung stabil.
Namun perlu dilihat juga bahwa stabilitas eksternal Indonesia ke depan sepertinya akan tetap dipengaruhi dinamika global dan sensitivitas aliran modal asing.
(dsp/aji)




























