Tan juga menyoroti bahwa tidak semua bahan tambahan memiliki kualitas yang sama. Misalnya, cokelat memiliki berbagai jenis dengan kandungan yang berbeda, begitu juga dengan yogurt yang beredar di pasaran.
“Saya tidak tahu persis bahan campurannya. Cokelat saja kastanya banyak, yogurt juga begitu. Dark chocolate berapa persen, isinya apa saja,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa dampak dari tren ini sangat bergantung pada jenis tambahan yang digunakan. Namun, yang perlu diwaspadai adalah potensi terbentuknya kebiasaan baru dalam mengonsumsi buah.
“Tergantung apa imbuhannya. Tapi nanti jadi kebiasaan makan buah harus pakai tambahan,” jelasnya.
Menurutnya, membiasakan konsumsi buah dalam bentuk alami tetap menjadi pilihan terbaik untuk menjaga keseimbangan nutrisi dan kesehatan tubuh.
dr. Tan Shot Yen, mengingatkan bahwa manfaat buah-buahan, termasuk buah lokal—adalah sebagai sumber nutrisi alami (real food), antioksidan, dan vitamin (A, C) untuk meningkatkan imunitas dan kesehatan tubuh.
Sangat disayangkan, kata dia, apabila ditambahkan bahan campuran lain sehingga tidak memaksimalkan kandungan buah itu sendiri ketika mengonsumsinya.
(dec)
































