Logo Bloomberg Technoz

Rasio Klaim JKN Tembus 108,72%, BPJS Bayang-bayangi Defisit

Dinda Decembria
09 June 2026 21:00

Petugas melayani peserta program BPJS Kesehatan di Kantor BPJS Kesehatan Jakarta Selatan, Kamis (26/2/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Petugas melayani peserta program BPJS Kesehatan di Kantor BPJS Kesehatan Jakarta Selatan, Kamis (26/2/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - BPJS Kesehatan mengungkapkan rasio klaim Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terus mengalami tekanan dan telah mencapai 108,72% hingga April 2026. Angka tersebut menunjukkan biaya pelayanan kesehatan yang dibayarkan BPJS Kesehatan kini lebih besar dibandingkan dengan pendapatan iuran yang diterima.

Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito mengatakan rasio klaim JKN secara konsisten berada di atas 100% sejak 2023. Kondisi tersebut menandakan pengeluaran untuk membiayai layanan kesehatan peserta terus melampaui penerimaan iuran, sehingga memberikan tekanan terhadap kondisi keuangan program.

Hingga April 2026, beban pelayanan kesehatan tercatat mencapai Rp65,03 triliun, sementara pendapatan iuran hanya sebesar Rp59,8 triliun. 


"Sampai dengan April 2026, beban pelayanan kesehatan mencapai Rp65,03 triliun, sedangkan pendapatan iuran hanya Rp59,8 triliun. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan biaya pelayanan kesehatan berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan pendapatan program," kata Prihati dalam rapat kerja Komisi IX DPR RI bersama Menteri Kesehatan, Dewan Pengawas, dan BPJS Kesehatan, Selasa (9/6/2026).

Prihati menjelaskan BPJS Kesehatan pernah mengalami defisit dalam periode 2018 hingga 2020. Meski kondisi sempat membaik setelah pandemi Covid-19, tekanan kembali meningkat seiring melonjaknya biaya pelayanan kesehatan. Saat ini BPJS Kesehatan menangani sekitar 2 juta transaksi layanan kesehatan setiap hari dengan nilai pembayaran mencapai sekitar Rp500 miliar per hari.