Logo Bloomberg Technoz

Di tengah kabar redanya konflik AS dan Iran, yang masih simpang siur, indeks dolar AS tercatat stabil di level 98,396, sementara harga minyak mentah dunia ikut turun 3% ke US$89,39 per barel (WTI), dan 0,1% menjadi US$98,38 per barel (Brent).

Tapi kondisi ini tak lantas membuat volatilitas rupiah menjadi lebih jinak. Rupiah masih melanjutkan tren pelemahannya sejak perang pecah di Timur Tengah pada 28 Februari lalu.

Rupiah sempat berkali-kali mencatatkan level terendahnya pada bulan ini. Dan pada penutupan pasar Jumat (17/4/2026) rupiah dibanderol Rp17.190/US$ yang menandai posisi terlemahnya sepanjang sejarah penutupan pasar. 

Tren pelemahan rupiah yang berlangsung sejak awal tahun, membuat ruang pelonggaran suku bunga oleh otoritas moneter kian sempit. 

Sejak awal tahun hingga Senin (20/4/2026), rupiah telah tergerus sebanyak 2,81%, menempati posisi kedua terlemah di kawasan. Posisi rupiah ini hanya lebih baik dari rupee India yang melemah 3,28%. Kondisi rupiah juga masih terdepresiasi 1,08% sepanjang April.

Di sisi lain, meski harga minyak tercatat turun, namun harganya yang masih berada di atas US$90 per barel berpotensi menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Sebab, dalam asumsi APBN harga minyak berada di kisaran US$70 per barel. 

Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan tidak akan menaikkan harga BBM subsidi hingga akhir 2026. 

(ell)

No more pages