Sementra itu, guncangan eksternal ini mulai berdampak ke Indonesia, sebagaimana tercermin dalam arus modal keluar bersih sebesar US$1,47 miliar antara pertengahan Maret dan pertengahan April 2026. Angka ini didorong oleh arus keluar ekuitas US$1,8 miliar, meskipun terdapat arus masuk sebesar US$330 juta ke pasar obligasi pemerintah.
Tak hanya itu, nilai tukar rupiah pun melemah sebesar 0,88% dalam perhitungan bulanan(mtm), diikuti oleh penurunan cadangan devisa menjadi US$148,2 miliar.
"Dalam kondisi ini, kami berpendapat bahwa Bank Indonesia perlu mempertahankan BI Rate di level 4,75%," tutur Riefky.
Menurut dia, bank sentral perlu memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah dan ketahanan eksternal, sambil memantau secara cermat perkembangan tekanan inflasi. BI memiliki opsi untuk memperketat kebijakan jika inflasi meningkat.
(lav)






























