Meski rupiah mencatatkan penguatan selama dua hari beruntun, tetapi penguatan ini belum sepenuhnya mencerminkan perubahan fundamental yang solid.
Harga minyak mentah global yang ikut turun sejurus meredanya ketegangan di Timur Tengah memberi ruang bagi defisit anggaran yang lebih terkendali, meski dalam konteks harga masih berada di atas rata-rata asumsi dasar makro US$70 per barel.
Akan tetapi, sepertinya pasar masih dalam mode hati-hati dan akan melihat apakah penurunan harga minyak ini bersifat sementara atau berkelanjutan.
Sebab, kondisi di Timur Tengah belum sepenuhnya selesai dari perang. Dengan begitu, volatilitas harga energi masih mungkin terjadi.
Dari pasar surat utang, investor global masih mengerubungi instrumen berdenominasi rupiah. Imbal hasil surat utang acuan berubah menjadi 6,57%. Dan investor global masih menempatkan dana sebesar US$86,6 juta di pasar surat utang ini, per tanggal 17 April 2026.
Di sisi lain, dana investor juga tengah terkonsentrasi dalam instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Dalam lelang Jumat (17/4/2026), total penawaran yang masuk mencapai Rp50 triliun, namun hanya diserap oleh BI Rp19 triliun.
Dari total penawaran yang masuk sebanyak Rp40,7 triliun masuk pada tenor 12 bulan. BI pun menyerap Rp17 triliun di tenor itu, lebih banyak daripada tenor 6 bulan senilai Rp1,5 triliun, dan 9 bulan Rp500 miliar.
Besok BI akan mengumumkan keputusan suku bunga acuan, yang berdasarkan hasil survei Bloomberg terhadap 22 ekonom hasilnya tetap di 4,75%.
(dsp/aji)































