Logo Bloomberg Technoz

Tapi, di tengah kondisi penuh ketidakpastian ini lalu lintas kembali menyusut. Data pengamatan lalu lintas vessel di Bloomberg menunjukkan jumlah kapal yang melintas terus turun sejak sepekan sebelumnya.

Lalu Lintas Selat Hormuz

Pada Sabtu (11/4/2026), jumlah kapal yang melintas sebanyak 11 unit, yang terdiri dari 6 tanker dan 5 kapal kargo. Sehari kemudian pada Minggu, jumlah ini naik menjadi 15 unit kapal, yang terdiri dari 9 kapal tanker dan 6 kapal kargo. 

Setelah itu, pada hari-hari selanjutnya jumlah kapal yang melintas kembali menyusut menjadi hanya 2 kapal hingga 9 kapal (seperti dalam data infografis berikut).

Penyeberangan Kapal Kargo Komersial di Selat Hormuz (Bloomberg Technoz)

Kemudian, pada akhir pekan (18/4/2026) jumlah kapal melintas kembali melonjak menjadi 17 unit terdiri dari 11 kapal tanker, dan 6 kapal kargo. 

Melonjaknya jumlah kapal yang melintas disebabkan oleh pertanyaan pemerintah Iran melalui Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Iran membuka kembali jalur tersebut untuk pelayaran komersial internasional. 

Kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS), Pertamina Pride dan Gamsunoro juga dikabarkan ikut melintas pada hari itu.

Akan tetapi, tak berselang lama lalu lintas Selat Hormuz kembali tersendat karea pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut Iran tengah membersihkan ranjau laut dari jalur tersebut.

Fakta di lapangan juga menunjukkan sebaliknya, jalur kembali tertutup setelah kapal Iran mendapat serangan dari angkatan laut AS dan Iran melakukan perlawanan.

Di tengah kondisi ini, pasukan Iran dikabarkan kembali menembaki kapal dan memberlakukan kontrol ketat di Selat Hormuz. Blokade ini juga membuat kapal-kapal yang beredar di selat kembali mematikan sinyal pelacakan untuk menghindari deteksi. 

Alhasil lalu lintas kembali turun drastis. Berdasarkan data Vessel Bloomberg, pada Minggu (19/4/2026) dan Senin (20/4/2026) hanya dua kapal berhasil melintas yang terdiri dari kapal tanker 1 unit dan kapal kargo 1 unit. 

Ketidaksinkronan antara pernyataan politik para pemimpin negara yang bertikai dengan realitas operasional di lapangan ini praktis membuat selat yang menjadi lalu lintas seperlima pasokan minyak dunia jadi macet lagi. 

"Volatilitas yang berlanjut akan membuat sebagian besar pemilik kapal mengambil pendekatan hati-hati 'wait and see'," kata Ivan Mathews kepala analisis APAC di Vortexa Ltd, seperti dikutip Bloomberg News, Selasa (21/4/2026). 

Posisi Kapal Pertamina

PT Pertamina International Shipping (PIS) sempat mengabarkan bahwa posisi kedua kapal PIS, Pertamina Pride dan Gamsunoro, kembali tertahan di Teluk Persia dan belum dapat melintasi Selat Hormuz. 

Sampai dengan hari ini, Senin (21/4/2026), kapal itu masih berstatus 'anchored' alias melabuhkan jangkar, serta tercatat dalam kondisi terisi. 

Berdasarkan data pergerakan terakhir yang dilansir dari data Vessel Bloomberg, kapal Gamsunoro terpantau berada di koordinat 25.51° LU dan 54.83° BT tertahan di Dubai, posisinya tidak jauh dari jalur strategis menuju Selat Hormuz. 

Meski posisinya berlabuh, data menunjukkan kapal tengah membawa muatan, dengan draft mencapai 12,6 meter sekitar 85% dari kapasitas maksimal yang terdiri dari produk minyak mentah dengan volume sekitar 43.456 mentrik ton dalam kondisi laden (terisi penuh). 

Pergerakan Kapal Gamsunoro berdasarkan data Vessel Bloomberg per 20 April 2026. (Bloomberg)

Pjs. Corporate Secretary PIS Vega Pita mengungkapkan kapal Gamsunoro sedang melayani pasar internasional dan saat ini sedang disewa oleh pihak ketiga yang mempekerjakan Anak Buah Kapal (ABK) sesuai dengan regulasi dan standar operasional yang berlaku.

“Kapal Gamsunoro termasuk salah satu kapal milik PIS yang melayani pasar tersebut, terutama di Asia, Eropa, Amerika, dan Afrika. Saat ini kapal tersebut disewa oleh pihak ketiga yang mempekerjakan ABK sesuai dengan regulasi internasional dan standar operasional yang ketat,” kata Vega dalam keterangan tertulis, Senin (20/4/2026).

Setali tiga uang, kapal Pertamina Pride juga masih belum dapat melanjutkan perjalanannya dan masih dalam posisi menunggu di kawasan Teluk Persia. 

Kapal bertipe Very Large Crude Carrier (VLCC) ini masih berada di koordinat 25.81° LU dan 53.56° BT. Meski berbeda lokasi dengan Gamsunoro, namun kedua tanker ini tidak jauh dari jalur utama menuju Selat Hormuz. 

Pergerakan dan posisi terakhir Kapal Pertamina Pride pada 20 April 2026. (Bloomberg)

Pertamina Pride tercatat tengah memuat crude yang jadi komoditas energi RI dengan volume sekitar 249.821 metrik ton, dan berstatus laden (terisi penuh) sekitar 88% dari kapasitas kapal. Tujuan pelayaran saat ini masih tercatat 'for orders', alias belum memiliki destinasi akhir yang pasti dan menunggu instruksi berikutnya dari pihak operator. 

Berbeda dengan Gamsunoro yang disewa pihak ketiga dan tengah berlabuh di Dubai, Pertamina Pride seharusnya tiba di Indonesia dengan tujuan Cilacap pada 2 April 2026. Namun, sejak perang Timur Tengah pecah, kapal ini belum juga mendapat akses melintasi Selat Hormuz.  

--- dengan bantuan Azura Yumna

(dsp/aji)

No more pages