Logo Bloomberg Technoz

Dolar AS Menguat Karena Tensi Perang, Rupiah Bisa Terseret Lagi

Tim Riset Bloomberg Technoz
20 April 2026 08:32

Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai kontrak rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) dibuka stagnan di level Rp17.170/US$. Rupiah lanjut defensif menuju level Rp17.162/US$. Lantas bagaimana prediksi rupiah di pasar spot hari ini?

Nilai kontrak rupiah terhadap dolar AS di pasar luar negeri (offshore), Senin (20/4/2026). (Bloomberg)

Setelah lima hari beruntun mengalami pelemahan, hari ini indeks dolar AS kembali menguat 0,21% ke posisi 98,3. Hal ini terjadi lantaran tensi perang kembali naik setelah Angkatan Laut AS menyita sebuah kapal Iran, yang disusul dengan perlawanan Iran dengan menembaki kapal-kapal dan memberlakukan kembali pembatasan di Selat Hormuz.

Kondisi penuh ketidakpastian ini membuat harga minyak mentah jenis Brent kembali melonjak 7,09% ke US$96,79 per barel pada Senin (20/4/2026) pukul 07.10 WIB, setelah sempat berada di posisi US$90,38 per barel pada penutupan Jumat (17/4/2026).


Dari regional Asia, mata uang di pasar yang sudah buka menunjukkan pelemahan. Won Korea Selatan melemah 1,11%, yen Jepang 0,34%, dolar Singapura melemah 0,29%, ringgit Malaysia melemah 0,16%. 

Pergerakan mata uang kawasan Asia melemah setelah tensi perang kembali naik dan membuat harga minyak tinggi. (Bloomberg)

Meski risiko meningkat di tengah ketidakpastian kapan perang berakhir dan berhenti menekan kondisi perekonomian dunia, bank sentral sejumlah negara memasang sikap penuh kehati-hatian.