Ancaman stagflasi kembali menguat di tengah dampak perang yang telah berlangsung selama tujuh pekan ini. Lebih luas, dampaknya kini tak hanya terasa di pasar energi, tapi juga ke aktivitas bisnis dan ekspektasi ekonomi global.
Stagflasi merupakan istilah lama yang kembali muncul di tengah kondisi adanya ancaman inflasi tinggi namun pertumbuhan cenderung tersendat (stagnan).
International Monetary Fund (IMF) bahkan telah mengingatkan bahwa dunia kini berada dalam risiko yang mendekati resesi.
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menyampaikan pesan bahwa jika perang berhenti hari ini, pemulihan tidak akan datang dengan cepat. Sebab dampaknya telah tertanam dalam sistem ekonomi global.
Kondisi ini membuat posisi bank sentral menjadi serba salah. Di satu sisi, tekanan inflasi, terutama akibat adanya kenaikan biaya energi, menuntut sikap kewaspadaan tinggi. Tapi di sisi lain, pertumbuhan ekonomi yang cenderung landai dan bahkan melemah, membatasi ruang gerak untuk pengetatan yang agresif.
Khususnya bagi Indonesia yang mengalami tekanan inflasi impor cukup tinggi. Menaikkan suku bunga untuk menopang mata uang sepertinya masih belum memungkinkan di tengah laju pertumbuhan ekonomi yang melambat.
Pelemahan rupiah juga dapat ikut memperbesar tekanan inflasi yang datang dari kenaikan biaya impor dan harga energi.
Pemerintah juga telah menaikkan harga bahan bakar non-subsidi pada akhir pekan lalu, seperti Pertamax Turbo dari Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter. Begitu juga dengan Dexlite yang ikut melonjak dari Rp14.200 menjadi Rp23.600 per liter, dan Pertamina Dex dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter.
Kenaikan ini dapat menyebabkan daya beli kelas menengah semakin tergerus. Sebab, kelas menengah kerap diposisikan tak cukup miskin untuk menikmati bbm bersubsidi yang memang harganya tidak naik masih Rp10.000 per liter untuk Pertalite, dan Rp6.800 per liter untuk solar subsidi.
Di tengah kondisi penuh ketidakpastian ini, arah pergerakan rupiah cenderung terbatas. Dalam jangka pendek arah rupiah di pasar spot cenderung defensif dengan bias melemah di rentang Rp17.100/US$ hingga Rp17.250/US$.
Penguatan sesaat di pasar luar negeri pagi ini mencerminkan adanya penyesuaian setelah tekanan yang terjadi, bukan perubahan yang bersifat fundamental. Sebab, selama ketidakpastian global tetap tinggi, permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS akan tetap kuat. Pagi ini, indeks dolar kembali menguat menjadi sinyal bahwa pasar kembali memasang mode risk-off.
Analisis Teknikal
Secara teknikal nilai rupiah berpotensi lanjut melemah pada perdagangan hari ini. Dengan target pelemahan menuju Rp17.200/US$ sampai dengan Rp17.250/US$. Level selanjutnya pelemahan berharap tertahan di ke Rp17.400/US$ dengan tertembusnya support kuat dari posisi sebelumnya.
Adapun dalam tren jangka menengah, atau dalam sepekan perdagangan, rupiah mengonfirmasi trend bearish, apabila tertembus trendline channel kuatnya lagi, maka berpotensi membentuk All Time Low baru yang tercermin dari time frame daily.
Apabila rupiah memberikan tanda-tanda menguat nantinya, resistance terdekat dapat menuju Rp17.150/US$, sementara range gerak rupiah dalam resistance di antara Rp17.100 sampai dengan Rp17.000/US$.
--- dengan asistensi M. Julian Fadli
(dsp/aji)



























