Logo Bloomberg Technoz

Turunnya harga minyak mentah dan sentimen perpanjangan gencatan senjata AS dan Iran membawa mata uang di pasar Asia bergerak di zona hijau. 

Di pasar yang sudah buka, ringgit Malaysia memimpin penguatan 0,19%, disusul yen Jepang, yuan China, dolar Singapura, dan won Korea Selatan. 

Pergerakan mata uang Asia pada Kamis (16/4/2026). (Bloomberg)

Namun bagi rupiah, pelemahan indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dan turunnya harga minyak mentah 0,45% itu tidak serta merta mendorong laju penguatan rupiah lantaran beban domestik yang cukup berat. 

Baru-baru ini, S&P Global Ratings memperkirakan Indonesia lebih rentan terdampak guncangan energi karena kondisi fiskalnya. Berbeda dengan Malaysia yang meski mengalami beban subsidi dan defisit karena kenaikan harga minyak, namun memiliki posisi lebih kuat karena memiliki struktur ekonomi yang lebih terdiversifikasi.

Dalam konteks Indonesia, konflik yang terjadi dan telah menyebabkan kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya subsidi Indonesia dan menekan anggaran negara. 

Menurut S&P Global Ratings, impor minyak yang lebih mahal akan memperlebar defisit transaksi berjalan.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak juga mempercepat terjadinya inflasi dan dapat mendorong kenaikan suku bunga di pasar, yang pada akhirnya meningkatkan biaya pinjaman pemerintah. 

Pandangan S&P Global Ratings ini mempertegas adanya potensi tekanan yang lebih bersifat struktural daripada risiko jangka pendek akibat perang. 

Hal ini terlihat dari pergerakan rupiah di pasar NDF yang biasanya menjadi indikator awal atas persepsi risiko global terhadap kondisi Indonesia. 

Fluktuasi tajam dan kecenderungan melemah dengan menembus level terlemahnya pagi ini mencerminkan bahwa investor di pasar offshore masih memasang premi risiko yang tinggi bagi aset berdenominasi rupiah. 

Dalam kondisi seperti ini, pergerakan rupiah di pasar spot berpotensi tetap beradada dalam tekanan dengan kecenderungan bergerak di rentang Rp17.100/US$ hingga Rp17.300/US$, seiring masih tingginya premi risiko yang dibebankan investor terhadap aset Indonesia. 

Meski peluang penguatan jangka pendek tetap terbuka jika sentimen global membaik, tapi ruang apresiasi rupiah diperkirakan masih terbatas selama faktor domestik belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. 

Analisis Teknikal

Secara teknikal nilai rupiah sejatinya masih ada potensi rebound, namun memang dengan laju penguatan yang amat terbatas di rentang sempitnya, dengan mencermati resistance terdekat menuju level Rp17.120/US$ yang merupakan resistance pertama dengan target penguatan selanjutnya Rp17.100/US$.

Analisis Teknikal Rupiah Kamis 16 April 2026 (Sumber: Bloomberg)

Jika nantinya berhasil break kedua resistance tersebut, rupiah berpotensi menguat lanjutan dengan menembus level Rp17.000/US$ sebagai resistance paling terkuatnya, yang tercermin dari time frame daily.

Jika nilai rupiah terjadi pelemahan pada perdagangan hari ini, support menarik dicermati pada level Rp17.200/US$ hingga Rp17.250/US$ secara potensial menahan rupiah.

(riset)

No more pages