Dari sisi domestik, penurunan harga minyak mentah ini memberi sedikit ruang bagi kondisi fiskal Indonesia meski harga minyak ini masih berada di atas angka asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Namun, jeda penurunan harga minyak mentah tersebut tampaknya belum cukup kuat untuk mengangkat kembali sentimen terhadap rupiah secara signifikan.
Ada beberapa faktor yang membuat pergerakan rupiah cenderung tertahan, bahkan ketika tekanan eksternal mulai mereda.
Pertama, permintaan dolar AS di dalam negeri masih cenderung tinggi, terutama dari kebutuhan korporasi untuk pembayaran utang luar negeri dan impor energi.
Kedua, persepsi risiko terhadap aset di pasar negara berkembang termasuk Indonesia masih relatif tinggi, meski saat ini ada sentimen risk-on terbatas, terlihat dari animo di pasar surat utang domestik yang mengalami kenaikan penawaran 34% dalam lelang.
Ketidakpastian global membuat aliran modal asing yang masuk belum cukup deras untuk bisa menopang penguatan rupiah secara berkelanjutan.
Ketiga, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) yang masih menarik memang jadi bantalan tersendiri. Tapi daya tarik ini juga jadi cerminan adanya premi risiko yang diganjar mahal oleh investor.
Di sisi lain, pelemahan indeks dolar AS lebih dari empat hari, sebenarnya memberi peluang bagi mata uang kawasan untuk menguat dan mengalami rebound, seperti yang terjadi pada ringgit Malaysia, won Korea Selatan, dolar Taiwan dan Hong Kong, serta yuan China.
Tapi dalam konteks rupiah, momentum ini malah tertahan oleh kondisi domestik, termasuk tekanan defisit fiskal yang berpotensi semakin melebar oleh tingginya impor energi dan barang modal akibat gangguan rantai pasok yang terjadi.
Dalam kondisi ini, rupiah akan bergerak dalam rentang sangat terbatas dengan kecenderungan volatil, sambil menunggu katalis baru yang lebih kuat.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, rupiah berpotensi bangkit dan menguat pada trading day hari ini, setelah tekanan di pasar mulai mengendur.
Adapun rupiah berpotensi menguat ke resistance terdekat di Rp17.100/US$. Resistance potensial selanjutnya menuju Rp17.050/US$, dan juga kembali mencapai Rp17.000/US$ sebagai level paling optimistis penguatan rupiah dalam tren jangka pendek (daily time frame).
Selanjutnya nilai rupiah memiliki level support psikologis di Rp17.150/US$. Apabila level ini berhasil tembus, maka mengonfirmasi laju support selanjutnya di Rp17.200/US$ yang makin jauh menjauhi MA-200 hingga Rp17.400/US$.
(riset/aji)






























