Logo Bloomberg Technoz

Ekonom: Sektor Riil Tertekan Pelemahan Rupiah & Harga Minyak

Mis Fransiska Dewi
15 April 2026 10:50

Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ekonom berpandangan pelemahan nilai tukar rupiah dan tingginya harga minyak dunia turut berdampak pada sektor riil. Saat ini, likuiditas ekonomi dinilai belum seret dan mesin ekonomi masih berjalan. Namun, jika rupiah terus melemah dan harga minyak bertahan tinggi, maka dapat menimbulkan inflasi impor, kenaikan biaya usaha, dan pelemahan keyakinan pelaku ekonomi. 

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai pelemahan rupiah dan harga minyak bagi sektor riil bersifat menekan, tetapi belum berarti ekonomi langsung melambat tajam. Pertumbuhan domestik tetap ditopang permintaan dalam negeri, inflasi tetap dijaga dalam sasaran jangka menengah, dan kredit 2026 masih diperkirakan berada di kisaran 8-12%. Uang beredar luas pada Februari 2026 juga masih tumbuh 8,7%, dengan penyaluran kredit tumbuh 8,9%. 

“Dalam situasi seperti ini, dampaknya ke ekonomi Indonesia bukan hanya soal bensin lebih mahal, tetapi juga menyentuh inflasi, daya beli, biaya produksi, biaya logistik, biaya pembiayaan, dan pada akhirnya menahan konsumsi rumah tangga serta investasi,” kata Josua saat dihubungi, dikutip Rabu (15/4/2026). 


“Jadi, bila konflik hanya singkat, ekonomi Indonesia masih bisa menahan guncangan. Tetapi bila berlarut, tekanan ke konsumsi kelas menengah, margin dunia usaha, dan laju pertumbuhan akan makin terasa.”

Dia menggarisbawahi eskalasi di kawasan Teluk mempersempit ruang kebijakan moneter global dan menaikkan volatilitas pasar keuangan, dan tekanan ini bisa berujung pada pelebaran defisit transaksi berjalan, keluarnya arus modal, dan pelemahan rupiah yang lebih dalam.