Logo Bloomberg Technoz

Inaplas Minta Bea Masuk LPG Dihapus, Tekan Biaya Produksi Plastik

Pramesti Regita Cindy
15 April 2026 10:40

Pekerja merapihkan wadah plastik di salah satu ritel modern di Jakarta Selatan, Rabu (1/4/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pekerja merapihkan wadah plastik di salah satu ritel modern di Jakarta Selatan, Rabu (1/4/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) meminta pemerintah menghapus bea masuk Liquefied Petroleum Gas (LPG) sebagai upaya menekan biaya produksi industri plastik di tengah tekanan pasokan bahan baku global.

Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiono mengatakan LPG dapat menjadi salah satu sumber alternatif pengganti nafta (bahan baku pembuatan plastik) yang saat ini pasokannya tengah terganggu. 

"Jadi kita sudah mencari juga sumber pasokan LPG untuk substitusi nafta, baik itu dari Afrika, Asia Tengah, maupun dari Amerika [tapi paling banyak memang dari Amerika]. Tapi tantangannya adalah LPG ini masih dikenakan bea masuk 5%,' kata Fajar ketika dihubungi oleh Bloomberg Technoz, Selasa (14/4/2026). 


"Sehingga kita kemarin sudah laporan ke Kementerian Perindustrian untuk mengkaji ulang bagaimana agar LPG ini bea masuknya bisa dihilangkan atau dengan insentif lain agar impor LPG harganya bisa kompetitif. Dengan begitu biaya produksi biji plastik tidak naik, karena kalau kena 5% itu lumayan," sambungnya. 

Terlebih kata dia, selama ini impor LPG RI yang mencapai 6 juta ton sebagian besar hanya baru diperuntukkan untuk kebutuhan energi atau kegiatan memasak. Padahal, LPG berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku industri petrokimia.