Geliat Produksi Tekstil Kala Terjepit Dampak Konflik Timteng
Andrean Kristianto
14 April 2026 15:46
Bloomberg Technoz, Jakarta - Industri tekstil menyampaikan kecemasan terkait keberlangsungan usaha di tengah konflik di Timur Tengah. Tekanan muncul akibat kenaikan harga bahan baku yang dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, menjelaskan bahwa harga paraxylene sebagai bahan baku utama poliester mencapai USD 1.300 per ton. Nilai tersebut meningkat sekitar 40 persen dibandingkan dua pekan sebelumnya.
Baca Juga
Redma menyebutkan bahwa kenaikan harga tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh industri hilir. Dampak berantai dari kenaikan bahan baku diperkirakan berlangsung bertahap hingga tiga pekan ke depan.
Kenaikan harga bahan baku juga telah dirasakan oleh industri pemintalan benang di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Sapruddin (60), pemilik usaha tersebut, menyampaikan bahwa harga benang saat ini naik sebesar Rp2.000 per kilogram.
“Harga jual sudah dinaikin dua ribu, harganya macem-macem ada yang tadinya Rp40.000/kg sekarang jadi Rp42.000. Kenaikan itu terjadi setelah lebaran,” kata pria berumur 60 tahun tersebut.
Kondisi serupa dialami oleh pelaku usaha penjualan kain tekstil di Pasar Mayestik, Jakarta Selatan. Mahesh (52), karyawan toko tekstil “Crown”, menyatakan bahwa kenaikan harga kain terjadi dalam beberapa minggu terakhir dengan variasi peningkatan.
“Harga sih naik dalam minggu-minggu ini, lumayan sih naik Rp7.000, ada yang Rp2.000, ada yang Rp1.000 per yard. Tapi kalau pabrik lokal naiknya lebih banyak daripada impor. Cuma kita gak bisa naikin, karena daya beli, kan gak mungkin, paling kita turunin cuan. Jadi istilahnya kita harus pintar-pintar otak,” ungkap Mahesh.
(dre/ain)

























