Logo Bloomberg Technoz

Geliat Produksi Tekstil Kala Terjepit Dampak Konflik Timteng

Andrean Kristianto
14 April 2026 15:46

Pekerja memintal benang di Kebayoran Lama, Jakarta, Selasa (14/4/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pekerja memintal benang di Kebayoran Lama, Jakarta, Selasa (14/4/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Industri tekstil menyampaikan kecemasan terkait keberlangsungan usaha di tengah konflik di Timur Tengah. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Industri tekstil menyampaikan kecemasan terkait keberlangsungan usaha di tengah konflik di Timur Tengah. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Tekanan muncul akibat kenaikan harga bahan baku yang dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Tekanan muncul akibat kenaikan harga bahan baku yang dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pelaku pemintalan benang di Kebayoran Lama mengatakan saat ini ia terpaksan menaikkan harga jualnya sebesar Rp2.000. (Bloomberg Technoz/Andrean K)

Pelaku pemintalan benang di Kebayoran Lama mengatakan saat ini ia terpaksan menaikkan harga jualnya sebesar Rp2.000. (Bloomberg Technoz/Andrean K)

Kenaikan harga dilakukan karena harga bahan baku yang juga mengalami kenaikan harga. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Kenaikan harga dilakukan karena harga bahan baku yang juga mengalami kenaikan harga. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Dampak berantai dari kenaikan bahan baku diperkirakan berlangsung bertahap hingga tiga pekan ke depan. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Dampak berantai dari kenaikan bahan baku diperkirakan berlangsung bertahap hingga tiga pekan ke depan. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Kondisi serupa dialami oleh pelaku usaha penjualan kain tekstil di Pasar Mayestik, Jakarta Selatan.  (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Kondisi serupa dialami oleh pelaku usaha penjualan kain tekstil di Pasar Mayestik, Jakarta Selatan. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Mahesh (52), karyawan toko tekstil “Crown”, menyatakan bahwa kenaikan harga kain terjadi dalam beberapa minggu terakhir dengan variasi peningkatan.

Mahesh (52), karyawan toko tekstil “Crown”, menyatakan bahwa kenaikan harga kain terjadi dalam beberapa minggu terakhir dengan variasi peningkatan.

Mahesh mengatakan kenaikan harga kain tekstil bervariasi dari Rp1.000 hingga Rp7.000/yard

Mahesh mengatakan kenaikan harga kain tekstil bervariasi dari Rp1.000 hingga Rp7.000/yard

Namun untuk menjaga daya beli, Mahesh mengatakan tidak menaikan harga jual namun mengurangi keuntungan dari hasil penjualan. (Bloomberg Technoz/Andre)

Namun untuk menjaga daya beli, Mahesh mengatakan tidak menaikan harga jual namun mengurangi keuntungan dari hasil penjualan. (Bloomberg Technoz/Andre)

Pekerja memintal benang di Kebayoran Lama, Jakarta, Selasa (14/4/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Industri tekstil menyampaikan kecemasan terkait keberlangsungan usaha di tengah konflik di Timur Tengah. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Tekanan muncul akibat kenaikan harga bahan baku yang dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pelaku pemintalan benang di Kebayoran Lama mengatakan saat ini ia terpaksan menaikkan harga jualnya sebesar Rp2.000. (Bloomberg Technoz/Andrean K)
Kenaikan harga dilakukan karena harga bahan baku yang juga mengalami kenaikan harga. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Dampak berantai dari kenaikan bahan baku diperkirakan berlangsung bertahap hingga tiga pekan ke depan. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Kondisi serupa dialami oleh pelaku usaha penjualan kain tekstil di Pasar Mayestik, Jakarta Selatan.  (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Mahesh (52), karyawan toko tekstil “Crown”, menyatakan bahwa kenaikan harga kain terjadi dalam beberapa minggu terakhir dengan variasi peningkatan.
Mahesh mengatakan kenaikan harga kain tekstil bervariasi dari Rp1.000 hingga Rp7.000/yard
Namun untuk menjaga daya beli, Mahesh mengatakan tidak menaikan harga jual namun mengurangi keuntungan dari hasil penjualan. (Bloomberg Technoz/Andre)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Industri tekstil menyampaikan kecemasan terkait keberlangsungan usaha di tengah konflik di Timur Tengah. Tekanan muncul akibat kenaikan harga bahan baku yang dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, menjelaskan bahwa harga paraxylene sebagai bahan baku utama poliester mencapai USD 1.300 per ton. Nilai tersebut meningkat sekitar 40 persen dibandingkan dua pekan sebelumnya.

Redma menyebutkan bahwa kenaikan harga tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh industri hilir. Dampak berantai dari kenaikan bahan baku diperkirakan berlangsung bertahap hingga tiga pekan ke depan.

Kenaikan harga bahan baku juga telah dirasakan oleh industri pemintalan benang di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Sapruddin (60), pemilik usaha tersebut, menyampaikan bahwa harga benang saat ini naik sebesar Rp2.000 per kilogram.

“Harga jual sudah dinaikin dua ribu, harganya macem-macem ada yang tadinya Rp40.000/kg sekarang jadi Rp42.000. Kenaikan itu terjadi setelah lebaran,” kata pria berumur 60 tahun tersebut.

Kondisi serupa dialami oleh pelaku usaha penjualan kain tekstil di Pasar Mayestik, Jakarta Selatan. Mahesh (52), karyawan toko tekstil “Crown”, menyatakan bahwa kenaikan harga kain terjadi dalam beberapa minggu terakhir dengan variasi peningkatan.

“Harga sih naik dalam minggu-minggu ini, lumayan sih naik Rp7.000, ada yang Rp2.000, ada yang Rp1.000 per yard. Tapi kalau pabrik lokal naiknya lebih banyak daripada impor. Cuma kita gak bisa naikin, karena daya beli, kan gak mungkin, paling kita turunin cuan. Jadi istilahnya kita harus pintar-pintar otak,” ungkap Mahesh.

(dre/ain)