Logo Bloomberg Technoz

Pagi Ini Harga Minyak Sudah Jinak, Tapi Rupiah Masih Susah Nanjak

Tim Riset Bloomberg Technoz
15 April 2026 09:18

Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah kala harga minyak mulai jinak di tengah redanya tensi perang antara AS dan Iran dengan rencana kesepakatan gencatan senjata. 

Rupiah spot pagi ini, Rabu (15/4/2026) pagi, dibuka stagnan di posisi Rp17.124/US$. Tidak lama berselang, mata uang Garuda tergelincir ke zona merah bersama yen Jepang, dolar Hong Kong, yuan offshore dan yuan China, juga peso Filipina yang sedikit melemah. 

Sebaliknya, dolar Taiwan, ringgit Malaysia, won Korea Selatan dan dolar Singapura berhasil rebound dengan melemahnya indeks dolar AS ke posisi 98,14. 

Mata uang Asia dalam sesi perdagangan Rabu pagi (15/6/2026). (Bloomberg)

Di tengah jeda perang, lonjakan inflasi global mulai mengintai. Dalam proyeksi Bloomberg Economics, inflasi global diperkirakan mencapai 4,2% pada kuartal IV-2026, naik dari 3,1% pada posisi Desember 2025. Bahkan, dalam skenario eskalasi konflik, angka ini bisa melonjak hingga 5,4%. 

Meski saat ini harga minyak tercatat jinak berada di bawah US$100 per barel, namun penurunan harga tersebut tampaknya belum cukup kuat untuk mengangkat kembali sentimen terhadap rupiah secara signifikan.