“Kami telah dihubungi pagi ini oleh orang-orang yang tepat, orang-orang yang berwenang, dan mereka ingin mengupayakan sebuah kesepakatan,” ujar Trump saat berada di Gedung Putih, tanpa merinci siapa saja yang terlibat dalam percakapan tersebut.
Selain Pakistan, pejabat dari Turki dan Mesir juga dikabarkan ikut memainkan peran diplomasi untuk mengakhiri perang ini. Hal tersebut membuka kemungkinan bahwa pertemuan berikutnya bisa saja berlangsung di salah satu dari kedua negara tersebut.
Sebelumnya, Wapres JD Vance kembali tanpa hasil dari Islamabad akhir pekan lalu setelah negosiasi satu hari gagal mencapai kesepakatan. Trump dan Vance menuding kegagalan itu disebabkan oleh penolakan Iran untuk melepaskan ambisi nuklirnya.
Di sisi lain, Iran—yang membantah ingin membangun bom nuklir namun bersikeras memiliki hak untuk memperkaya uranium—menyalahkan kegagalan tersebut pada apa yang disebut media pemerintah sebagai tuntutan AS yang "berlebihan."
Kendati demikian, pihak Iran tetap membuka pintu dialog. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa perbedaan pandangan yang ada tidak mungkin diselesaikan hanya dalam satu putaran pertemuan. Sinyal positif juga sempat muncul saat Trump mengunggah pesan di media sosial pada Minggu, yang menyebut bahwa para utusannya "secara mengejutkan menjadi sangat ramah dan hormat terhadap perwakilan Iran."
(bbn)





























