Logo Bloomberg Technoz

"Dengan demikian, pergerakan IHSG saat ini lebih mencerminkan fase trading range dibandingkan tren directional yang solid," jelasnya. 

Adapun jelasnya, Hendra berpandang pergerakan IHSG tersebut tak lepas dari sentimen global di mana setelah gagalnya perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. 

Akibatnya hal ini akan memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap psikologi investor global, termasuk di pasar domestik.

Bagi investor, situasi ini meningkatkan persepsi risiko, terutama karena kawasan Timur Tengah merupakan pusat distribusi energi dunia, khususnya melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak global. 

Di samping itu, jika risiko geopolitik meningkat, pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko seperti saham dan beralih ke aset safe haven. 

"Dampaknya, pasar saham berpotensi mengalami tekanan, volatilitas meningkat, serta aliran dana asing menjadi lebih fluktuatif, terutama di emerging market seperti Indonesia," ujar Hendra. 

Melihat kondisi tersebut, kata Hendra investor disarankan tetap selektif dan disiplin dalam manajemen risiko. Strategi buy on weakness dinilai lebih relevan dengan memanfaatkan koreksi sebagai momentum akumulasi bertahap.

Investor juga disarankan untuk menjaga proporsi kas yang cukup, mengingat potensi volatilitas masih tinggi dan arah pasar sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik yang sulit diprediksi. Selain itu, diversifikasi sektor penting dilakukan, terutama pada sektor yang relatif diuntungkan dalam kondisi ketidakpastian seperti energi dan komoditas.

(dhf)

No more pages