Logo Bloomberg Technoz

Penurunan juga terjadi pada tenor menengah seperti 4 tahun yang ikut turun 12,5 bps dan 5 tahun bahkan turun 22,5 bps ke 6,29%. Sementara itu, tenor panjang yang menjadi benchmark juga ikut turun 8,4 bps ke 6,6% dan tenor 20 tahun turun 10,1 bps ke 6,73%.

Penurunan yield di tenor pendek hingga menengah mencerminkan adanya pergeseran ekspektasi pasar seiring meredsnya tekanan eksternal yang sebelumnya membayangi pasar obligasi. 

Akan tetapi, nampaknya kehati-hatian investor belum sepenuhnya hilang. Penurunan yield di tenor panjang yang relatif terbatas menunjukkan bahwa investor masih berhitung risiko jangka panjang, baik dari sisi fiskal domestik maupun dinamika global yang belum sepenuhnya stabil. 

Momentum penurunan yield ini setidaknya berpotensi menurunkan biaya pembiayaan utang pemerintah. Kondisi ini jadi angin segar di tengah kebutuhan belanja negara yang terus meningkat, sekaligus memberi ruang napas bagi pengelolaan fiskal dalan jangka pendek. 

Apalagi, tekanan pembiayaan tidak bisa dibilang kecil. Pemerintah tercatat memiliki kewajiban utang jatuh tempo sebesar Rp144,42 triliun pada bulan ini. 

Di saat yang sama, arus dana asing cukup menunjukkan perbaikan dengan inflow yang mencapai US$41,7 juta secara harian, dan US$193,7 juta secara bulanan per Senin (6/4/2026). 

Kondisi yang terjadi cukup memperkuat sentimen positif di pasar surat utang domestik, setidaknya untuk saat ini. 

(red/aji)

No more pages