Logo Bloomberg Technoz

SRBI vs SUN: Persaingan Yield Kian Panas

Tim Riset Bloomberg Technoz
28 April 2026 13:44

Ilustrasi Pasar Obligasi (Diolah)
Ilustrasi Pasar Obligasi (Diolah)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Di tengah upaya otoritas fiskal dan otoritas moneter mengamankan mandatnya, terjadi kenaikan imbal hasil (yield) pada instrumen utang yang ditawarkan kedua lembaga tersebut: Surat Utang Negara (SUN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). 

Apa mau dikata, agar minat investor terjaga di tengah pasar yang penuh turbulensi ini, segala upaya harus dilakukan. Bagi Kementerian Keuangan sebagai otoritas fiskal mandatnya untuk menjaga 'dapur' negara tetap 'ngebul', maka menawarkan instrumen SUN untuk mendanai berbagai kebutuhan belanja negara jadi sebuah keharusan. 

Sementara bagi Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter, menjaga rupiah menjadi mandat utamanya, selain saat ini juga dibebankan dengan mandat baru: pertumbuhan ekonomi. Saat volatilitas rupiah tetap tinggi, MH Thamrin sulit untuk melakukan pengetatan moneter lewat jalur kenaikan suku bunga karena akan diterjemahkan sebagai kebijakan tidak pro-pertumbuhan. 


Alhasil, BI menawarkan instrumen SRBI kepada investor untuk meredam volatilitas rupiah. Lewat instrumen ini, BI menyerap rupiah di pasar dan menjaga arus modal (terutama modal asing) terus masuk ke pasar Indonesia.

Bahkan, frekuensi lelangnya ditambah menjadi dua kali dalam sepekan, setiap Rabu dan Jumat, demi menjaga stabilitas rupiah terhadap dolar AS yang sampai siang ini masih dibanderol mahal di Rp17.242/US$. 

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS secara year-to-date. (Bloomberg)