Logo Bloomberg Technoz

Pada siang hari ini, sejumlah Bursa Saham Asia kompak menguat dan menghijau cerah. dipimpin oleh Kospi (Korea Selatan), menyusul NIKKEI 225 (Jepang), TW Weighted Index (Taiwan), KOSDAQ (Korea Selatan), SENSEX (India), Shenzhen Comp. (China), Ho Chi Minh Stock (Vietnam), TOPIX (Jepang), CSI 300 (China), Hang Seng (Hong Kong), Shanghai Composite (China), PSEI (Filipina), SETI (Thailand), KLCI (Malaysia), dan Straits Time (Singapura) yang keseluruhannya berhasil menguat mencapai masing–masing 6,72%, 5,39%, 4,65%, 4,58%, 3,93%, 3,92%, 3,51%, 3,31%, 3,24%, 3,11%, 2,47%, 2,31%, 1,41%, 0,97%, dan 0,82%.

Adapun dominasi hijaunya Bursa saham Asia bergerak lebih baik dibanding dengan yang terjadi di New York. Pada perdagangan sebelumnya, 3 indeks utama di Wall Street finish di zona bervariasi.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) menutup perdagangan dengan penurunan 0,18%. Sementara, Nasdaq Composite menguat 0,09%, dan juga S&P 500 terapresiasi 0,07%.

Pengumuman Donald Trump tentang gencatan senjata selama dua minggu antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mengantar kelegaan bagi investor.

Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, Trump menyepakati gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran. Langkah ini meredakan kecemasan trader akan gangguan pasokan energi global yang berkepanjangan dan memicu aksi beli aset berisiko (risk–on) secara luas di pasar.

Masahiro Ichikawa, Kepala Strategi di Sumitomo Mitsui DS Asset Management menyebutkan, langkah Trump yang memasukkan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai syarat gencatan senjata merupakan hal yang "mengejutkan."

“Biarpun penghentian serangan ini hanya berlaku selama dua minggu, hal ini jelas akan mendongkrak sentimen investor,” papar Ichikawa.

Senada dengan hal tersebut, Kazunori Tatebe, Ahli Strategi di Daiwa Asset Management Co. menilai, meski tenggat waktu yang diberikan hanya dua minggu, hal itu meningkatkan ekspektasi akan adanya perkembangan konkret selama periode tersebut.

Pasar merespons gencatan ini dengan positif dengan turunnya harga minyak mentah jenis Brent hingga lebih dari 2 digit menuju harga US$92 per barel. Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) juga ikut merosot hingga dan turun ke level US$91,7 per barel, setelah Presiden Donald Trump setuju untuk menangguhkan pengeboman terhadap Iran

Langkah ini memberikan kelegaan bagi pasar global yang sebelumnya terombang–ambing oleh turbulensi konflik Timur Tengah.

Keputusan ini turut membuka jalan bagi dimulainya kembali aliran minyak melalui Selat Hormuz. Pihak Iran pun mengonfirmasi jalur pelayaran aman di selat tersebut akan dibuka selama periode gencatan senjata. 

(fad)

No more pages