Begitu juga dengan mata uang kawasan Asia di pasar yang sudah buka menyambut antusiasi gencatan ini dengan penguatan di zona hijau.
Won Korea Selatan menguat 1,51%, disusul baht Thailand 1,15%, lalu ringgit Malaysia 0,72%, yen Jepang 0,65%, dolar Singapura 0,49%, yuan offshore China 0,26%, dan dolar Hong Kong 0,01%.
Arah Rupiah Hari Ini
Bagi rupiah, meredanya ketegangan geopolitik setidaknya meredakan sedikit tekanan dari sisi eksternal. Namun, tekanan yang terjadi dari sisi domestik, termasuk kondisi fiskal masih jadi perhatian bagi pelaku pasar.
Hari ini investor akan mencermati kondisi cadangan devisa yang akan dipaparkan oleh Bank Indonesia selaku otoritas moneter yang telah melakukan upaya stabilisasi rupiah dua bulan terakhir.
Cadangan devisa yang akan dipaparkan nanti akan menjadi indikator kunci untuk membaca seberapa besar cadangan 'amunisi' yang telah digunakan oleh otoritas moneter dalam menahan gejolak nilai tukar rupiah selama sebulan terakhir ini.
Sebagai catatan, cadangan devisa per akhir Februari lalu turun US$2,7 miliar menjadi US$151,9 miliar.
Meski begitu, posisi ini masih dianggap kuat, setelah sebelumnya mencapai posisi yang cukup tinggi pada akhir Desember lalu di US$156,5 miliar.
Analisa Teknikal
Secara teknikal, rupiah berpotensi rebound meski dengan laju penguatan yang amat terbatas. Target resistance terdekat menuju level Rp17.060/US$, yang selanjutnya ke Rp17.020/US$.
Jika nantinya berhasil break kedua resistance tersebut, maka rupiah berpotensi menguat ke Rp17.000/US$ sampai dengan Rp16.900/US$.
Namun apabila rupiah malah melemah, maka support yang menarik dicermati ada di level Rp17.100/US$. Level support Rp17.200/US$ secara potensial akan menahan rupiah.
(riset/aji)






























