Logo Bloomberg Technoz

Emiten BRNA juga menarik perhatian lantaran beberapa pelanggan terkenalnya adalah PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Bayer Indonesia, PT Fumakilla Nomos, PT Reckitt Benckiser Indonesia, PT KAO Indonesia, PT Dupont Agricultural Product Indonesia, PT Mustika Ratu Tbk (MRAT), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Campina Industri Es Krim, dan masih banyak lainnya, melansir idnfinancials.

Saham PT Argha Karya Prima Industry Tbk (AKPI) terpantau sideways, bertahan pada zona harga Rp510/saham. Namun saham AKPI pagi tadi sempat jatuh dan menyentuh posisi terendahnya Rp492/saham, merupakan perusahaan film kemasan fleksibel untuk industri dan konsumsi, sebagai produsen BOPP (Biaxially Oriented Polypropylene) bahan plastik.

Sementara itu, saham PT Sinergi Inti Plastindo Tbk (ESIP), emiten produsen dan distributor kemasan plastik, berbasis HDPE dan LLDPE/LDPE, berhasil mencatatkan perbaikan harga mencapai 24% menuju harga Rp105/saham pada Selasa siang.

Fluktuasi harga ini terjadi di tengah lonjakan harga bahan baku bijih plastik di pasar komoditas global, di mana harga nafta (naphta/naphtha), komponen vital untuk pembuatan plastik, menembus US$995.664/metric ton pada Selasa siang, berdasarkan data Bloomberg, mendekati level tertinggi sepanjang sejarah yang sempat menembus US$1.092/metric ton yang terjadi pada krisis tahun 2028. 

Harga Komoditas Nafta (Naphta/Naphtha) Sepanjang 2026 Melejit Nyaris 100% (Bloomberg)

Secara year–to–date (ytd) harga nafta di pasar global dihargai 97% lebih tinggi dibanding penutupan pada tahun 2025, harga terus memanas tersulut konflik perang di Timur Tengah, hingga penutupan Selat Hormuz.

Gangguan suplai nafta tersebut memperlihatkan jelas krisis yang sedang membesar yang dapat menghambat produksi dan menekan pasar yang lebih luas, sampai dengan produk turunan plastik.

Mengutip Bloomberg News, kenaikan harga ethylene—komponen utama dalam produksi polyethylene—menjadi indikasi meningkatnya biaya bahan baku plastik secara global.

Di Amerika Serikat, harga ethylene spot tercatat melejit menyentuh level tertinggi sejak Februari 2025, seiring meningkatnya permintaan dan terbatasnya pasokan global akibat gangguan ekspor dari Timur Tengah.

Ethylene spot diperdagangkan pada 30,25 sen per pon pada Rabu di pusat Mont Belvieu, Texas milik Enterprise Products Partners LP, menurut seorang trader.

Transaksi terbaru ini menempatkan harga pada level tertinggi sejak Februari 2025, menandakan permintaan yang amat tinggi dari segala lini, menyeret gangguan operasional dan kekurangan bahan baku di seluruh rantai industri plastik.

Adapun Sekjend Inaplas Fajar Budiono menyebut, dalam rantai industri plastik, nafta memegang peran vital sebagai bahan baku utama industri petrokimia hulu. Bahan baku tersebut nantinya menghasilkan olefin; seperti ethylene dan propylene yang akan menjadi resin.

Terlebih lagi, Indonesia sangat bergantung terhadap pasokan impor nafta hingga 100% dari kebutuhan domestik.

(fad)

No more pages